Puisi

Mana ya. ,… para pujangga ato penyiarnya ?

Lah !

hehehhe

Para penyairnya

Ditunggu ya pusi2nya….

Waks salah. puisi-puisinya…..

5 Responses to “Puisi”

  1. de_flower Says:

    asalamualaikum

    wah ada puisi nya , penyair nya lagi kemana neh ? kudu kulakan penyair qiqiqiqiqiiqiqqiqiq cari di supermarket ada ga ya ??

  2. assalamualaikum wr wb

    lengkap juga ya ini blog , sayang neh kalo ga ada yang isi puisinya ,,,

  3. Dalam pekatnya kegelapan yg ada hanyalah cahayaMu
    Dalam ketidakberdayaan yg ada hanyalah kuasaMu
    Dalam kesunyian yg ada hanyalah seruanMu

    Tapi diri yg angkuh ini selalu menafikanMu!!!

    Dalam kesepian, diriMu yang menjagaku
    Dalam kerinduan, diriMu yang menemaniku
    Dalam kesulitan, diriMu yang memapahku

    Tapi diri yg dhaif ini selalu berpaling dariMu!!!

    Terjerembab jiwa ini dalam kefanaan
    Terlena raga ini dalam keduniawian
    Terkesima indera ini akan kepalsuan

    Wahai Pemilik ruh dan jasadku ini
    Masihkah diri ini pantas menerima kasihmu?
    Masihkah diri ini pantas disebut ciptaanmu yang sempurna?
    Masihkah diri ini pantas menyandang gelar khalifah dimuka bumi ini?

    Itu adalah sebagian kecil pertanyaan yang menyeruak dari relung hati
    Seorang manusia yang merindukan cintaMu

  4. Seribu satu camar saput putih abu langit pelabuhan
    Koak riuh teriakkan yel keangkuhan
    Ada satu yang hitam ringkih pelan
    Cacat buatnya yang lain enggan mendekat
    Sendiri mohon berteman tengger di beton ikat kapal
    Beberapa putih respon menyepak, melabrak, mencakar
    tinggalkan parut-parut nyeri luka merah
    Bahkan patukan pun tak sudi kotor darah si hitam
    Camar hitam meluruh menghujam lantai papan kayu
    Darah tetes tak mau henti alir menggenang
    Pekik permohonan terakhir lalu mati
    Seribu camar saput putih pucat langit pelabuhan
    Koak riuh teriakkan yel kesempurnaan

  5. sok-tau Says:

    Bentak SersanMayor gugah sadar
    Talu-talu genderang sangkakala sahut-sahut
    Meriam menyalak koyak pagi
    Pasang sangkur angkat senapan
    Maju gerak langkah seiringan getar bumi
    Baris tuju tanah kematian
    Tetes keringat rasa takut
    Ini adalah akhir hidup
    Bayang indah masa lalu, itu impian

    Deret seragam asing horisontal panjang memuai
    Itu musuh ! tahan napas debur jantung
    Desak-desak gelisah malu ingin lari
    Dituduh khianat jadi desertir
    Apa mereka rasa yang sama
    Ini bukan perang rakyat, biasa politik
    Demi tetap buncit perut Raja

    Tetap disini tunggu vonis Jenderal
    Enak duduk punggung kuda
    Dikeliling kavaleri gagah melingkari
    Selalu infanteri ringkih ujung tombak
    Menyambut salam hangat musuh

    Tubuh-tubuh lunglai terjangan pelor-pelor
    Buncahan bongkah tanah terpukul meriam
    Menembus kulit iris nyeri ciutkan nyali
    Teriak panik, pedih, marah bising telinga

    Balas !
    Bidik yang tepat konsentrasi jangan lengah
    Tembak !
    Tembus kepala robohkan seorang musuh
    Serbu !
    Gugup tergesa sorongkan tajam sangkur
    Lebur jadi satu, semua abu-abu mana lawan mana yang kawan
    Gelap mata tusuk kiri-kanan sabet atas-bawah yang penting kena

    Mundur !
    Seru terompet komando
    Berlarian kacau barat-timur utara-selatan
    Carut marut kebingungan
    Sebagian kecil masih bergulat dibutakan amarah

    Apa yang terjadi ?
    Mundur dulu !
    Respon telat
    Ikut mundur
    Sayang, lawan tak terima
    Dan pedangnya terlanjur tancap tembusi punggung…-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: