Persiapan Awal

Wahai para suami,

ketahuilah bahwa istri-istrimu sudah mempersiapkan diri sejak lama untuk menjadi pendampingmu. Mereka telah belajar menjadi ibu yang baik dari semenjak balita (fitrah). Mereka menyukai boneka, membayangkan dan belajar mengasuh bayi seperti ibu mereka yang mengasuh mereka. Mereka belajar kebersihan rumah belajar memasak, belajar segalanya, hanya demi hari ketika engkau menyuntingnya sebagai istri. Mereka belajar memasak agar engkau suka dengan masakannya dan menghemat kewajiban pengeluaranmu. Mereka menjaga diri dan hijabnya (meski dengan resiko dicemooh dan dikucilkan) semua dipersembahkan saat engkau menjadi suaminya. Tak seorangpun dia perbolehkan menyentuh, bahkan melihat kecuali suaminya kelak. Meski engkau tergolong nakal. Tetapi mereka tidak. Merekalah yang menyebabkan dunia dan agama ini tetap tegak. Tanpa keteguhan mereka menjaga diri maka kehancuran generasi sekarang dan mendatang tak dapat dihindari (cobalah berpikir sejenak…).

Mereka belajar berdandan untuk menyenangkanmu. Mereka belajar perilaku agar dapat cepat menyesuaikan diri dengan mu. Mereka belajar pengetahuan agar nyambung bila kau ajak ngobrol. Mereka mempelajari kehidupan dan jalan-jalan yang terbentang, agar dapat menjadi penasehatmu serta pembimbing anak-anakmu. Mereka belajar kesabaran dan ketabahan agar menjadi pelipurmu di saat engkau capek dan suntuk. Mempelajari perawatan diri agar engkau terpuaskan di rumah. Mereka menyukai dan belajar segala keindahan dan kesenian agar engkau tidak merasa bosan dan tersanjung. Sebelum bertemu engkau mereka telah melakukan banyak hal, semestinya engkau hargai mereka. Setiap bulan mereka diajarkan kesabaran luar biasa mengenai kesakitan, yang engkau tidak akan sanggup menanggungnya. Hal ini sebagai persiapan menghadapi kesakitan saat melahirkan anak-anakmu yang sakitnya antara hidup dan mati.

Wahai para suami,

kenalilah pengorbanan istrimu, bahkan sebelum engkau mengenal mereka. Bahkan mereka telah menerima ejekan tentang olokan sebaya mereka karena pilihan mereka. Mereka siap dikatakan kolot, ketinggalan jaman, jaman emansipasi, tak tahu dunia, dst. Demi untuk dirimu saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: