Meninggalkan Idealisme Diri

Wahai para perusak moral.

Engkau telah menjauhkan isterimu dari jalan yang sudah baik yang mereka lakukan.

Engkau mengatakan hal tersebut sebagai kampungan, orang tak mengerti, kolot, tak mengikuti perkembangan jaman, dsb.

Tiap hari kau caci perilaku baik mereka. Tiap hari kau cemooh tindak tanduk mereka sebagai hal yang bodoh.

Maka demi dirimu yang bodoh mereka akhirnya menyesuaikan diri. Mereka merubah pribadi mereka menjadi sesuai keinginanmu yang bodoh. Mereka bahkan sampai rela harus menjual akhirat mereka demi menuruti keinginanmu. Kau rusak kemanusiaan mereka.

Kau buang sampai ke lembah kebinatangan.

Kau hancurkan keindahan yang sudah mereka rajut semenjak kecil.

Kecelakaan apa yang engkau timpakan kepada mereka. Engkau binatang yang berujud manusia. Janganlah engkau mengajak mereka menuju kebinatangan seperti dirimu.

Jika diingatkan engkau malah marah-marah tak karuan.

Kau merasa dirimulah yang paling benar, pengetahuanmu yang paling luas, tujuanmu yang paling realistis, angan-anganmu yang membawa kebahagiaan, dan metodemu yang paling mutakhir.

Manusia memang memiliki kemampuan untuk menjadi seperti apa. Dan hal itulah yang akan dipertanggung jawabkan di kemudian hari.

Jika engkau merasa tidak ada hari perhitungan dan hari pembalasan, maka itu urusanmu.

Jika engkau belum mendapatkan logika/sandaran akal mengenai kepastian akan datangnya hari perhitungan, maka itu juga menjadi pekerjaan rumahmu sendiri. Jika engkau belum berhasil menemukan tujuan diciptakan hidup dan kehidupan, maka itu adalah masalahmu.

Tapi semua itu tidak menafikan adanya hari pembalasan, dikarenakan engkau belum berhasil membuktikannya.

Alih-alih engkau terus berusaha mencarinya, engkau malah meyakininya sebagai tidak ada, palsu, semu dan nisbi.

Engkau malah mengajak isterimu menuju kehancuran.

Engkau mengajak mereka melangkah mundur. Mereka yang sudah mengetahui jati diri mereka engkau ajak kepada kekosongan yang engkau tawarakan. Ke tak bertujuan hidup yang engkau banggakan. Menuju kesenangan yang menjerumuskan yang engkau anggap sebagai tujuan.

Betapa bodohnya engkau. Engkau yang bodoh mengajak mereka menuju kebodohan.

Betapa kecelakaan diatas kecelakaan yang akan menimpamu.

Engkau harus menanggung akibat kebodohanmu serta orang-orang yang engkau ajak menuju kebodohan.

Pikirkanlah wahai para suami………

3 Responses to “Meninggalkan Idealisme Diri”

  1. Dimanakah kutemukan suami yang bisa menjaga dirinya dan keluarganya dari panasnya api neraka?..anugerahkanlah satu untukku ya Robb…

  2. tenang aza mbak yuning , i pray for you with love ….🙂

  3. Ilahi amiinn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: