Pangeran yang Terasing : Imam Ali Ridha -1

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dalam Khazanah sejarah Islam, Imam Ali Ridha adalah seorang yang berilmu pada zaman nya dan memiliki banyak pengikut. Ia termasuk deretan salafusholeh yang paling dikenal pada zamannya….selain silsilah nya yang sampai pada RAsul SAAW, ia juga hidup pada masa Khalifah Abbasiah berkuasa dan menyaksikan hiruk-pikuk kesemrawutan kehidupan politik Islam akibat pertarungan antar mahzab dan klan . Ya..ia adalah ALi Ridha bin Musa Kazhim bin Muhammad Baqir bin Ja’far Shadiq bin Ali Sajjad bin Hussain bin Ali bin Abi Thalib.

Khalifah Abbasi Makmun saat itu sedang risau…Saat itu sedang puncaknya pemberontakan thp kekuasaannya. Baik pemberontakan dari Bani Ummayyah maupun dari kekuatan-kekuatan politik saat itu. Makmun pusing, karena kekuasannya sedang di gerogoti dari kiri dan kanan. Tapi ia melihat sebuah fenomena yaitu tampil nya seorang keturunan Nabi SAAW yang kerap menjadikan rujukan agama maupun rujukan politik di kalangan masyarakat saat itu…Ya, dialah Ali Ridha. Makmun melihat…bahwa Ali Ridha adalah ancaman sekaligus peluang bagi dirinya melanggengkan kekuasaannya. Melalui serangkaian pemikiran dan masukan dari pembantu2 nya…Makmun akhirnya menganggkat Ali Ridha sebagai Putra Mahkota, sebuah posisi yang sangat bergengsi dan prestisius.

Ada beberapa pertimbangan Makmun ketika memutuskan itu. Pertama adalah : dengan dijadikannya Ali Ridha sebagai Putra Mahkota, maka ia hendak mematikan pemberontakan yang berasal dari kelompok Ali Ridha dan berkonsentrasi mematikan kelompok lain. Kedua adalah : hidup di Istana dengan peraturan2 yang ketat, diharapkan memisahkan Ali Ridha dengan pengikutnya…sehingga pengikutnya akan kehilangan sosok pemimpin. Ketiga adalah : dengan posisi Putra Mahkota, diharapkan akan menghancurkan kredibilitas Ali Ridha. Orang-orang akan menuduh ALi Ridha sebagai orang yang haus kekuasaan.

Imam Ali Ridha membaca kehendak Makmun. Setelah di desak berkali-kali, bahkan dengan ancaman Makmun akan menghabiskan pengikutnya jika ia menolak, maka Ali Ridha menerima jabatan itu. Tapi dengan syarat : bahwa ia tidak mau terlibat dalam pengurusan pemerintahan. Permintaan ini diajukannya, demi keluar dari jebakan yang di buat oleh Khalifah. Beliau ingin menunjukkan bahwa beliau tidak haus akan kekuasaan.

Upaya Beliau Memanfaatkan Kondisi :

Masuknya Imam Ali Ridha ke pemerintahan benar-benar membatasinya bertemu langsung dengan pengikutnya. Ia mengantisipasi itu dengan menunjuk seorang wakilnya yang menjadi penyampai pesan-pesan nya ke pengikutnya. Imam akhirnya berfokus dakwah di kalangan pemerintahan. Mulai dari para Menteri, Jaksa, Hakim, Militer, pemuka agama maupun dakwah langsung kepada Khalifah sendiri. Ia memasukkan nilai2 Ilahi ke dalam lingkungan pemerintahan Makmun. Perlahan tapi pasti di lingkungan istana mulai terjadi Islamisasi. Ketidak tahuan dan kebodohan mulai disingkapkan beliau di istana. Bahkan kecintaan terhadap beliau mulai bersemi bak bunga yang merekah di pagi hari.

Pernah suatu kali Khalifah memanggil beberapa pemuka agama lain untuk datang ke Istana dan berdebat dengan Imam Ali Ridha. Tujuannya adalah apabila Imam tidak mampu berdebat, maka ia akan di permalukan. Berikut kisah debat itu….bersambung

a-k

One Response to “Pangeran yang Terasing : Imam Ali Ridha -1”

  1. mohon riwayat imam musa al khadiim,makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: