Kualitas Euy….

Ini tidak ada hubungannya dengan barang maupun jasa. Tidak juga dengan pembelian maupun penjualan.

Kali ini ada hubungannya dengan penghasilan. Sedikit uneg-uneg dari penulis yang ingin ditumpahkan, barangkali dapat sambutan.

Sering kita membanding-bandingkan besarnya penghasilan atau gaji seseorang dengan gaji kita. Saat melamar pekerjaan pun salah satu pertimbangan (bahkan mungkin yang paling penting) adalah besarnya gaji atau penghasilan yang akan kita peroleh dari perusahaan yang akan kita pilih. Sehingga saat melihat lowongan kerja, kita akan memilih untuk membuat surat lamaran pada perusahaan yang bonafid, terkenal (dengan gaji besar), atau setidak-tidaknya dia membuat iklan lowongan dengan memakan jumlah kolom yang besar (yang setidaknya menggambarkan kondisi keuangan pengiklan).

Singkat kata <!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>(biar tidak terlalu mbulet) kita akan sangat suka bila memperoleh penghasilan atau gaji yang besar (dari yang kita peroleh saat ini).

Tapi satu hal yang ada perlu kita pikirkan adalah sebagai salah satu pertimbangan adalah sisi kualitas dari penghasilan tersebut, disamping kuantitas yang sering kita jadikan perhatian.

Kualitas yang dimaksud antara lain:
1. Apakah dengan kuantitas penghasilan seperti itu juga meningkatkan kualitas pribadi kita atau malah akan memerosotkan kualitas kita (sebagai manusia)
Mungkin penghasilan tersebut besar, tetapi lingkungan pekerjaan tersebut mengharuskan salam tempel, jilat sana, sikut sini, selalu datang telat, tidak disiplin, Asal bos senang, maksiat mata, maksiat pendengaran, maksiat lidah, hati, dst. Yang alih-alih semua itu akan memaksa kita (sadar atau tidak) menjadi terpengaruh. Kalau tak terpengaruh pun kita akan terbiasa melihat tersebut sebagai kewajaran. Bukan suatu aib atau kesalahan. Sehingga pada akhirnya kita dididik dan di giring untuk memerosotkan diri. Menjadi pemalas, tidak disiplin, tidak peka hati, terbiasa dengan penindasan, kemewahan, penjilatan, dst. Sangat kontra produktif dengan amal di riyadhah yang sering kita lakukan sholat, dzikir, puasa, dst. Efek positif dari riyadhah terus-menerus digerus dengan efek negatif tempat kita menggantungkan penghasilan.
Maka nanti saat ada panggilan langit untuk menegakkan keadilan, kita mungkin akan menjadi musuh keadilan itu sendiri, karena kita sudah terbiasa menjadi penikmat ketak adilan.

2. Dengan kuantitas sebegitu apa pantas dibandingkan dengan penurunan kualitas dari segi fisik kita
Dari segi fisik mungkin kita sering lihat orang yang mempunyai penghasilan besar sangat sering terserang penyakit akut, stroke, kanker, diabetes, dll. Karena pola kerja untuk mendapatkan penghasilan itu tidak menyebabkan keseimbangan fisik. Pulang malam, istirahat kurang, makan tak teratur. Makanannya tak mau dengan kolesterol rendah (alias tidak doyan), dst. Bandingkan dengan seorang petani atau pengayuh becak. Makanannya tidak berlebihan kolesterol (walaupun kadang kekurangan), fisiknya dipaksa untuk selalu olahraga dan antibodynya dipaksa untuk terus meningkat dengan terik panas matahari, debu jalanan, makanan dan minuman seadanya.

3. Kuantitas itu apa harus mengorbankan kualitas sosial kemasyarakatan kita
Sering kali penghasilan besar harus dibayar dengan waktu pemenuhan kewajiban yang besar juga untuk menggapainya. Akhirnya hidupnya hanya untuk bekerja. Sampai di rumah istirahat. Bangun kerja lagi. Pergi sebelum mentari muncul, pulang setelah mentari tenggelam, 7 hari seminggu harus dilakoni. Akhirnya dia hidup kayak seorang diri, tidak kenal tetangga, tidak tahu manisnya tolong menolong dengan tetangga, tidak merasakan enaknya bercengkerama dengan keluarga. Tidak sempat mengobrol dengan keluarga. Tidak ada waktu luang bahkan untuk dirinya sendiri. Apakah kuantitas itu mampu menggantikan sebagian hal yang terlewat tadi?

4. Kuantitas itu akan mengisolir kualitas pendidikan anak bini
Kuantitas tinggi biasanya diperoleh juga dari daerah yang jauh (luar daratan, pulau, negeri) maupun waktu yang banyak tersita. Pada akhirnya kesempatan untuk mendidik keluarga dan menjadi contoh bagi mereka semakin kurang. Jadi mereka akan kurang mendapatkan kehangatan pendidikan kepala keluarga. Meski teknologi komunikasi sudah semakin canggih tak akan sanggup menggantikan kehadiran keluarga. Bahkan kecanggihan teknologi juga mempunyai efek merusak yang semakin tinggi. Hal ini bisa mengakibatkan stagnansi dari kualitas keluarga, dan diserahkan pada pasar. Meski terkadang ada sebagian yang sudah memiliki pendidikan yang bagus.

5. Kuantitas itu tak dapat dinikmati
Jika pemerolehan kuantitas tidak juga terbatasi dengan syukur, maka akan terus dicari dan dicari. Yang menyebabkan kegiatan sehari-hari adalah untuk memperoleh kuantitas. Tidak memiliki kesempatan menikmati. Atau kasarannya anda mengumpulkan harta untuk orang lain. Yang bisa jadi orang lain akan menggunakan tidak sesuai dengan norma dan aturan yang ada. Sementara anda lebih berhak untuk menggunakan untuk tabungan anda sendiri (tabungan akhirat).
Mungkin ada sebagian pekerjaan yang kuantitasnya tidak terlalu besar, tetapi si pelaku masih sempat menikmatinya. Sehingga akan menambah rasa syukurnya. (yang insya Allah merupakan pintu tambahan rejeki). Berbeda dengan orang yang tidak punya waktu menikmati kuantitas besar yang diperoleh, dia akan merasa selalu kurang (dan kurang bersyukur juga). Akhirnya dia terlilit dengan lingkaran waktu pemenuhan kuantitas yang tiada pernah habis selain kematian. Tiada akan pernah sempat menikmati. Dan semakin terjebak akan kesempitan yang semakin menjadi setiap hari akibat terus diburu untuk memenuhi kuantitas yang semakin tinggi. Dengan kata lain semakin diperbudak oleh kuantitas tadi.

6. Kuantitas itu akan menukar akhirah dengan dunya
Betapa banyak kiri kanan kita demi mengggapai kuantitas mereka melanggar aturan, norma, syariat yang ada. Mereka berandai-andai akan bertaubat jika setelah memperoleh kuantitas tertentu. Padahal itu adalah tipuan besar setan. Mereka tak tahu kapan merekan mati (kayaknya mati tua dan sempat tobat). Mereka juga lupa akan himpitan dan tuntuan yang semakin menjadi bila terus memperturutkan kuantitas lebih baik (diatas langit masih ada langit) tanpa diimbangi syukur, qonaah, ridho. Dan bahkan yang lebih menguatirkan lagi bahwa pelanggaran / maksiat pada kondisi tertentu akan melemahkan semangat tobat, dan menghilangkan kemampuan untuk berubah. Yang pada akhirnya akan menggapai suul khotimah. (banyak kita dengar orang yang sudah mengeluh tidak mungkin tobatnya diterima -> karena sudah besarnya dosa yang dia rasa telah lakukan).

7. dll (bisa dikembangkan dan direnungkan sendiri)

Pada akhirnya kita perlu melihat kondisi kita saat ini. Bahwa yang kita terima saat ini adalah yang terbaik untuk kita dari segi kualitas dan kuantitas yang patut kita syukuri. Mungkin kita kadang terlewatkan, maka perlu untuk segera meninjau kembali segi kualitas kita yang sering terabaikan sebelum datangnya pengadilan kualitas.

Selamat mempertimbangkan kualitas.
AB12

4 Responses to “Kualitas Euy….”

  1. ^anyelir^ Says:

    Akhirnya…..
    AB nulis sendiri juga….🙂
    Brati dah ga ada masalah ya…di kantor ?
    ;))

  2. Eh kemarin dibawahnya blogroll kemarin muncul meta… dari situ bisa masuk… sekarang kok ilang lagi ya?………

  3. kuantitas penghasilan linier gak dengan kualitas pendidikan anak yahhh…. ?

  4. Ebay^_^ Says:

    ya lebih baik kuantitas banyak kualitas juga OKE tetep. ^_^

    namun kesempurnaan hanya milik-Nya.
    thank AB12…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: