Kualitas ku seberapa ya…..

Melanjutkan sebelumnya mengenai kualitas.

Salah satu pertimbangan lain yang perlu kita perhatikan adalah kelayakan kualitas kita untuk memperoleh kuantitas yang kita harapkan.

Sering kita melihat orang disekeliling kita tidak cocok (walaupun hanya dugaan kasar) memperoleh kuantitas sebanyak itu. Kita lihat mereka malah makin terpuruk dengan kuantitas yang mereka dapatkan. Dari sejarah kita kenal Qorun yang sebelumnya miskin dan sangat setia dengan Nabi Musa, bahkan salah seorang kerabat nabi Musa menjadi sangat kurang ajar dengan harta yang dimintanya kemudian dikabulkan. Akhirnya dia ditelan tanah dengan harta yang dia banggakan dan andalkan. Ada juga Tsa’labah salah seorang sahabat Nabi Saaw, yang juga terpuruk dengan harta yang dia minta sendiri. Yang bahkan oleh Nabi pun sampai-sampai ditolak berkali-kali (karena mungkin telah mengetahui kualitas dari Tsa’labah). Akhirnya dia pun terpuruk dengan hartanya.

Kita juga bisa lihat beberapa kasus anggota DPR kita (walau tidak semuanya lho…) Sebelum jadi anggota dewan, mereka ”kere”, tetapi tetap hidup secara bersih. Memegang uang sejuta aja mungkin jarang-jarang. Tetapi setelah menjadi anggota dewan, dengan gaji kotor sampai 50 juta, tetap merasa kurang. Sampai perlu untuk korupsi sana-sini. Itu pun yang ketahuan. Yang tidak ketahuan mungkin banyak lagi.Betapa banyak anggota dewan yang ketangkap KPK, dan sekarang disidang (itu yg ketahuan lho). Tapi kita tak usah bahas terlalu jauh, karena akan menyebabkan menjadi bertele-tele.

Intinya kualitas kepribadian mereka tidak siap mengelola kuantitas yang banyak tersebut.

Tetapi ada juga pribadi yang tak terpengaruh kuantitas tersebut. Ada Nabi Sulaiman (yang udah terkenal), Nabi Saaw (konglomerat dari istrinya) menggunakan harta untuk perjuangan. Ada Ali AS yg memerdekakan 1000 budak dengan uangnya sendiri tetapi dia hidup bak gelandangan. Ada Fathimah yg dengan Fadak tak ada orang miskin di Madinah yang kelaparan dlm 2 th. Masa kini pun banyak contoh yg perlu kita lihat, dari ulama-ulama (rabbani) di dunia ini, yang sudah sangat terkenal kezuhudannya meski harta khumus didalam kuasanya. (Yang dengannya dia sanggup membeli sebuah negara).

Nah dari 2 contoh tersebut ada hal yang perlu kita renungkan.

  1. Allah itu Maha kaya, Maha bijak, Maha pemurah, dst. Jadi tak mungkin Dia menghalangi kekayaan untuk diterima hamba Nya (asal kualitas dia sepadan / mampu menampung rahmat Nya). Rahmat ini maha luas dan tidak tepat untuk dibahas disini, tetapi kita cukupkan untuk masalah kekayaan aja ya… (biar tidak bertele-tele)
  2. Kadang kita terlalu tinggi menilai kualitas diri sendiri, seakan kita mampu untuk menanggung ”ujian” harta yang kita minta, jangan-jangan kita seperti Qorun atau Tsa’labah. (kadang kita terlalu pede menilai diri sendiri). Mungkin kalau kita kayak anggota dewan yang sekarang, mungkin kelakukan kita bahkan lebih rusak yang diberitakan oleh media massa (karena mungkin kualitas kita lebih jelek).
  3. Kadang kuantitas yang saat ini kita peroleh sungguh sangat banyak sisi kualitas yang bisa kita dapat. Jadi berbaik sangka aja ama Tuhan. Kita aja yang tak mau mengambil pelajaran dari semua kuantitas yang kita peroleh (sedikit mungkin udah disinggung di postingan sebelumnya). Dan kita terus menerus tak mau mengambil pelajaran dari kuantitas saat ini. Seakan-akan kita sudah memperoleh pelajaran dari kuantitas saat ini, padahal dengan kuantitas saat ini masih banyak kualitas yang belum kita petik hikmahnya, maka dari itu terus aja direnungin dan disyukurin…. Jadi kita mau naik kelas, tapi tak mau belajar dari pelajaran saat ini, mana mungkin lah yaw…….
  4. Jadi supaya kita layak menerima kuantitas yang banyak, maka persiapkan kualitas diri, maka dengan sendirinya kuantitas akan mengalir dengan sendirinya. Karena tak mungkin Tuhan menghalangi seseorang menerima rahmat, jika dia memang mampu dan layak. Tuhan itu maha sayang, karena itu lah salah satunya kita tidak diuji dengan sesuatu yang kita tak sanggup ”ujian harta”. Ada Wattaqullaha wayuallimukumullah (ilmu), Fayaj alu makhroja (kesulitan), Wayarzuqhu (rejeki / kuantitas) min haitsu la yahtasib, dll.

Dari sini ada beberapa hal jika kita meningkatkan kualitas diri, maka kita tidak akan tergoda/terlena terhadap ujian yang sebagian besar orang tidak mampu menanggungnya (dunia). Sehingga sama saja kita banyak atau sedikit harta tak akan mempengaruhi pandangan kita (zuhud).

Maka dari itu perlu kita berpikiran positif aje ame Tuhan. Kalau kita menginginkan harta yang banyak (menginginkan harta banyak à itupun sudah menunjukkan posisi kualitas kita he he he….). Maka kita perlu mempersiapkan kualitas kita untuk layak mengelola kuantitas yang kita inginkan….

Selamat merenungkan kualitas.

AB12

One Response to “Kualitas ku seberapa ya…..”

  1. jadi kesimpulannya selain kita meminta kuantitas, kita juga harus mempersiapkan kwalitas juga ya. ^_^
    bener ga ya? hehehe…
    oh yaaaaaaa… pantesan orang tua kita ngga bakalan ngasih motor pada Anak yang misal baru berumur balita.

    Thank buat AB12,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: