Tipuan tentang Rezeki

Masih melanjutkan posting sebelumnya. Masih seputar penghasilan/pendapatan tetapi kadang meski hal-hal dibawah ini sudah kita sadari, kita masih mau aja ketipu (Atau emang sifat kita yang suka ketipu ya…). Jadi walaupun sekedar ngulang ya gak ada salahnya, setidaknya dari pada jadi jerawat…

1. Umur yang panjang
(kata klise: ) Setiap hari kita melihat kematian, ada yang tua muda, laki perempuan, bayi kakek nenek, yang sehat atau yang sakit, dst. Kita sangat menyadari bahwa kematian itu pasti (sampai saat ini tidak ada teknologi yang menghalangi kematian). Dan dapat terjadi pada siapa saja, kapan saja. Tetapi walaupun kita tahu, tetapi masih belum berimplikasi pada sikap kita, karena ilmu pengetahuan kita tentang mati masih sebatas teori, sebatas diterima oleh akal dan belum merasuk kedalam hati (bukan istilah biologi lho…). Yang jika sudah merasuk kedalam hati, maka hati akan menggerakkan seluruh aktifitas kita. Dalam kata lain dalam hatilah timbul niat, motivasi, dorongan, kesadaran, empower, dll. Tetapi dalam akal sebatas pengetahuan, knowledge, ilmu, istilah-istilah, dll. Jadi masalah yang kita hadapi adalah pengetahuan kita (akan mati) itu belum masuk kedalam hati, sehingga kita senantiasa tertipu. Mengenai metode memasukkan pengetahuan dalam hati (silahkan cari sendiri euy… biar tak kepanjangan) sudah dibahas oleh ahlinya…
Tipuan ini adalah tipuan yang amat ampuh dan dahsyat, tapi implikasinya sangat besar. Baik dari segi akhlak, akidah, ibadah, pandangan hidup, ekonomi, dst. Hampir semua aspek dari sisi kehidupan seseorang akan berubah dengan tipuan ini, termasuk masalah penghasilan. Dari sisi penghasilan dari sudut pandang penulis tipuan ini memiliki 2 bentuk; ifrath dan tafrith, berlebihan dan kekurangan, negative dan terlalu positif (dalam konotasi negative). Jadi seperti orang bilang yang enak ya yang sedang sedang saja.
Untuk efek yang berlebihan : Dengan memandang umur panjang, kita akan berusaha semaksimal mungkin menyiapkan bekal untuk kehidupan kita, bekal untuk besok, bulan depan, tahun depan, sepuluh tahun, seabad, dst. Tipuan ini akan memperbudak kita untuk terus menerus mencari penghasilan dan tabungan, sampai-sampai melanggar aturan norma, hukum, syariat, dst. Tidak ada waktu untuk istirahat (time is money, katanya) jadi kita terus diperbudak tipuan, menjadi hamba tipuan, terus kerja, diuber target, tenggat waktu, diuber oleh angan-angan dan tipuan kita.
Untuk efek yang kekurangan : Tipuan ini akan berkata, yah masih ada besok, diselesaikan besok saja, ngapain ’ngoyo’, santai dulu ah, dll. Akibatnya kita menjadi pasif, loyo, tak bersemangat, males-malesan, dst.
Jadi yang bagus ya diantara keduanya (amran bainal amraini  keren kan?) seperti yang dicontohkan para suri tauladan kita bagaimana mereka dalam bekerja dan mencari penghasilan. Bekerja keras, tetapi tidak tertipu (sulit kan…)

2. Tak memperoleh kesempatan besok
Yah dengan tipuan ini, kita akan embat apa aja yang kita dengar sekarang informasinya. Dengan mencari muka, sikut sana sini, jatuhkan rekan, injak bawahan, jilat atasan. Membohongi konsumen tentang barangnya (toh setidaknya laku hari ini). Seakan-akan kesempatan hanya datang sekali seumur hidup. Dengan menganggap seperti itu, maka ketika sesuatu itu dianggap sebagai kesempatan, maka kita akan perlakukan dengan ’sangat istimewa’ bahkan dengan berlebihan. Padahal (kalau kita mau jeli) kesempatan bisa diciptakan. Kesempatan bisa datang tiap hari. Asalkan kita memang layak, maka kesempatan akan datang. Dan kesempatan pun bisa dikejar. Dst. (kalau istilah-istilah ini bisa didiskusikan lebih panjang dan lebih lebar….)

3. Mengagungkan rencana
Rencana / planning yang matang adalah ½ dari keberhasilan suatu pekerjaan (itu kata orang) sedang yang ½ lagi adalah actionnya (kata orang lagi). Rencana yang bagus akan memperhatikan semua sisi resiko dengan metode yang canggih, misalnya dengan menggunakan sistem risk managament. Tetapi kadang kita lupa (ato pura-pura lupa) bahwa yang kita hitung risk nya hanya sebatas sisi material aja. Semua sebab-sebab fisik kita siapkan semua rencana mengatasinya. Lobi sana-sini, beli alat ini itu, suruh orang begini begitu, lakukan ini itu, dll. Syahdan pada akhirnya kita akan berkutat pada sebab-sebab material aja (yang dengan rahmat Nya Tuhan terkadang kita dipermudah menggapai meski tanpa memperhatikan sebab non material). Pada akhirnya kita malah menuhankan rencana yang matang dari sebab-sebab tampak aja. Akhirnya dengan segala keberhasilan materi itu (kita anggap diri kita berhasil), kita sesungguhnya gagal total (tertabiri diri kita dari sebab non material) pada kehidupan kita. Meski seringkali kita menyadari bahwa tak semua yang kita rencanakan berhasil, toh kita tak mau dan mampu mengambil pelajaran atasnya. Seakan itu hanya sebagai suatu kebetulan aja, tak pelu diambil pusing. Hanya satu diantara sekian kejadian.

4. Tabungan untuk orang lain
Tipuan lain adalah masalah tabungan. (Ini bahas dari sisi jeleknya lho…) Kita seakan merasa bahwa semua nominal angka yang kita simpan di dalam bank adalah milik kita. Kita merasa amat senang untuk terus-menerus menambah nominal angka tersebut. Kita akan merasa dapat mengandalkan nominal angka tersebut untuk mengatasi kejadian-kejadian yang mungkin nanti datang tidak terduga. Kalau mau dipikir lebih dalam, kejadian tak terduga pun biayanya nanti tak bisa kita duga besarnya. Jadi menyiapkan sesuatu untuk hal yang tidak kita ketahui kebutuhannya dengan nominal tertentu ????
Ada hal lain yang patut direnungkan mengenai tabungan. Tabungan adalah harta berhenti, uang mandeg. Dan tidak kita nikmati (misal kalo dirupakan makanan  Enak, dirupakan rumah  Nyaman, dirupakan pakaian  Sedap, dst). Artinya tidak ada nilai yang bisa kita gunakan atas tabungan kita untuk saat ini (kecuali nilai-nilai semu yang sudah kita sebutkan diatas). Kalau kita mengabaikan nilai semu itu maka akhirnya sama saja kita tidak punya tabungan atau punya tabungan (tidak ada nilai lebihnya). Dan jika kita kembalikan ke nomor 1 tadi masalah mati, maka seakan kita menyangka hidup terus, dan tidak memikirkan kemungkinan atas besok atau lusa mati. Jadi kita menumpuk nominal dalam tabungan untuk hal yang tak pasti (belum tentu tabungan itu akan kita pakai sendiri). Yang pasti jika kita mati tabungan itu pasti jatuh ketangan orang lain, entah itu ahli waris, bank sendiri, atau siapapun yang akan mengambilnya. Jadi seakan-akan kita menabung untuk orang lain…
Yang lebih runyam lagi adalah (bila kita sudah mengetahui dan membuktikan akan kehidupan lain / balasan amal kehidupan saat ini) kita tidak bisa memanfaatkan tabungan tersebut untuk bekal diri kita sendiri. Semua nominal yang kita kumpulkan yang merupakan potensi amal kita biarkan terbuang sia-sia (saat kita mati), kita biarkan dipakai bekal oleh orang lain. Dan mungkin bahkan jika dipakai kejahatan, kita ikut menanggung dosa atas kejahatan orang tersebut dengan menggunakan warisan tabungan kita.

5. Kenyamanan dan keamanan atas harta
Tipuan ini juga tak kalah besar pengaruhnya. Kita berandai-andai bila kita memiliki harta, kekayaan, tabungan dan nilai-nilai tertentu kita akan merasa enak dan nyaman hidupnya. Kita merasa aman tuk terus mengarungi kehidupan dunia ini tanpa terlalu sibuk dan repot memikirkan kesulitan yang kan menimpa kita. Pemikiran ini saja sudah mendangkalkan kualitas kita (ekstrimnya kita mengandalkan dan menuhankan harta). Padahal berapa banyak kejadian di sekeliling kita yang membuktikan sebaliknya. Berapa banyak orang yang kaya dimusnahkan begitu saja kekayaannya (bencana, kebakaran, kemalingan, ditipu, dst). Jadi kita tidak bisa begitu saja menggantungkan keamanan dan kenyamanan atas banyaknya harta. Banyak juga kita lihat semakin orang banyak harta semakin merasa tidak aman (jiwanya semakin gundah, alih-alih harta menjadikan tenang, membuat dia semakin dijepit perasaan was-was yang membuat dia terserang berbagai penyakit, stress, mag, stroke, jantung, dst). Dia terus menerus menambah tingkat keamanan penjagaan hartanya dengan semakin bertambahnya harta yang dia miliki, membangun pagar rumah, teralis besi (jadinya kayaknya di penjara sendiri hi hi hi…) menyewa satpam, body guard, pasang cctv, sewa akuntan kalau masih kurang sewa auditor, masih kurang lagi ada kpk, ada orang kepercayaan, tangan kanan kalau masih tak percaya orang lain akhirnya diperiksa sendiri, dst. Tetap aja tuh tidak merasa aman. Malah semakin ditenggelamkan dengan ketidak amanan toh….
Nilai keamanan dan kenyamanan tidak berbanding lurus dengan banyaknya harta, bahkan mungkin tidak ada hubungannya sama sekali. Karena perasaan aman dan nyaman (perasaan = wujud immateri manusia) tidak bisa diberi dan ditambah dengan harta (karena harta = wujud materi. Wujud materi tidak bisa menambah wujud immateri). Yang bisa meningkatkan rasa aman dan nyaman adalah nilai immateri itu sendiri. Misalnya : syukur, ridho, qonaah, tawakkal, taslim, dst (Ini udah dibahas oleh yang ahlinya …. Kalau mau detail cari aje sendiri he he he).

6. Kesenangan semu.
Nasi goreng dipinggir jalan kadang lebih enak dibandingkan yang dihidangkan di restoran, hanya mungkin beda tempat, beda kelas, beda pelayanan, kebersihan, dll. Mobil Kijang sama Mersi mungkin sama ja, tidak kepanasan dan kehujanan dan bisa mengantar ke tujuan, hanya beda kelas aja, sama ada sedikit beda perangkat tambahannya. Begitu juga dengan rumah, televisi, telepon, komputer, buku, tas, make up, sayuran, buah-buahan, dlsb.
Banyak kesemuan yang lebih kita kejar dibanding manfaat yang bisa diberikan atas barang-barang tersebut, prestise, kelas, level, merk, pandangan orang, kata dunia, dll. Secara riil manfaat yang kita peroleh mungkin sama aja. Kita makan nasi goreng di restoran maupun nasi bungkus ya sama aja. Untuk membuat perut tidak lapar atau kenyang. Cita rasa nya pun sebatas tenggorokan saja, yang tak lebih dari 2 menit sudah hilang bila sudah tertelan. Rumah tempat istirahat pun akan kita abaikan begitu tidur, tak terasa ntah tidur di hotel bintang, losmen, rumah biasa, ngontrak, ngekos, dst. Apalagi bila sudah meninggal tak kan di bawa euy…… Sebenarnya kita pun sadar tentang tipuan prestise, kelas, level ini yang sering menjerumuskan seseorang, yang bila tak kuat bisa berakibat fatal, entah korupsi, kolusi, munafik, pura-pura, mencuri, dll.

Tentunya masih banyak tipuan tentang harta ini yang sering kita temui, tapi tanpa sadar kita pun percaya dan larut di dalam tipuan itu. Karena mungkin diri kita masih terlalu dikuasai oleh nafsu, syahwat, ego, emosi, dll dibanding mengutamakan akal. Latihan diri, penyucian diri, penggemblengan diri akan membantu menapaki jalan riil bukan jalan tipuan.
Para suri tauladan sering mengatakan, hidup itu ya hari ini, manfaatkan semua potensi dan sumber daya tuk bekal. Besok adalah hal yg tak pasti.

Selamat menghindari tipuan
AB12

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: