Kelompok Sempalan : Bagaimana menanggapi nya ?

Jalaluddin Rakhmat dalam perbincangannya dengan Kajian Islam Utan Kayu (KIUK), Kamis (8/11) lalu, di Kantor Berita Radio 68H Jakarta.

Kang Jalal, tahun 1992, Martin van Bruinessen menulis tentang kelompok-kelompok sempalan di Indonesia. Waktu itu, Syiah termasuk salah satu kelompok sempalan yang dibahas. Mengapa kelompok-kelompok sempalan selalu muncul dan aspek apa yang membuat mereka selalu dapat pengikut?

Saya pikir, saya pertama-tama kita harus mendefinisikan kembali apa itu kelompok sempalan. Sangat aneh kalau kita memasukkan gerakan Al-Qiyadah Al-Islamiyah sama dengan Syiah dalam kategori kelompok sempalan. Saya kira, hatta katak pun akan tertawa mendengar itu. Karena itu, harus ada klasifikasi dan kategorisasi. Jadi sebelum kodok tertawa, kita definisikan dulu apa yang dimaksud dengan aliran sempalan.

Dalam istilah sosiologi, juga psikologi sosial, ada aliran-aliran yang menyimpang dari mainstream masyarakat. Mereka biasanya tumbuh dengan karakteristik psikologis tertentu. Para sosiolog menyebutnya cult atau kultus. Nah, kultus atau aliran sempalan ini bisa berada pada bidang agama dan bisa juga pada bidang komersial seperti multi level marketing. Juga pada bidang politik, seperti Naziisme. Naziisme awalnya gerakan sempalan sebelum berkembang menjadi partai politik berkuasa.

Tapi biasanya, yang sering diperbincangkan adalah kultus di bidang agama. Dan sesuatu dikatakan cult dengan definisi-definisi lebih ketat. Jadi, tidak hanya dengan patokan menyimpang dari mainstream. Karena kalau begitu, nantinya Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah cult dari sudut pandang Syiah di Iran. Lebih lanjut, baik Sunni maupun Syiah juga sempalan di Amerika. Sebab, keduanya hanya sekelompok kecil dari masyarakat Amerika.

Karena itu, salahlah mendefinisikan kelompok sempalan hanya dengan patokan menyimpang dari mainstream atau agama yang dianut arus utama. Itu salah, karena nantinya semua aliran akan menjadi sempalan dalam struktur sosiologis tertentu. Karena itu, ada beberapa tambahan kenapa suatu aliran disebut sempalan. Biasanya, mereka juga ditandai dengan hadirnya seorang pemimpin kharismatis yang menuntut kepatuhan mutlak para anggotanya. Kelompok sempalan itu selalu punya pemimpin kharismatis yang punya aura sakral.

Kadang dianggap punya ilmu kanuragan juga, ya….

Ya punya ilmu kanuragan. Dia biasanya dianggap punya ilmu tersembunyi yang tidak diketahui orang-orang umum. Karena dianggap kharismatik, dia juga biasanya otoriter. Itulah ciri utama dari sebuah aliran sempalan.

Bagaimana dengan kedudukan bai’at ?

Bai’at berfungsi secara psikologis agar orang atau para pengikut mematuhi titah sang pemimpin. Caranya, dia (sang pemimpin) menjatuhkan dulu harga diri para pengikut. Kalau bisa malah dihilangkan sama sekali identitasnya. Karena itu, pada kelompok-kelompok ini, kita sering menemukan semacam upacara penghilangan identitas. Dulu, kelompok DI/TII—maaf untuk menyebut ini—masuk dalam kelompok sempalan juga. Dan biasanya, orang yang masuk ke situ segera berganti nama. Kapan ganti nama? Setelah membuat komitmen. Jadi, ada komitmen kepatuhan total terhadap pemimpin. Itulah yang disebut bai’at. Secara psikologis, bai’at adalah kesediaan untuk memberikan total commitment. Malah total surrender (pengorbanan yang total) kepada otoritas sang pemimpin yang punya ilmu tersendiri itu tadi.

Selain adanya pemimpin kharismatik, apa ciri lainnya, Kang?

Saya jadi ingat Martin Cambell, penulis When Religion Become Evil, tatkala agama berubah menjadi jahat. Agama menjadi jahat, satu, kalau ada pemimpin yang secara mutlak harus dipatuhi. Kedua, tentu ada cara untuk mengikat kepatuhan mutlak itu, yakni dengan berbagai ritus-ritus, misalkan bai’at atau janji suci. Kalau perlu dengan mengorbankan darah. Jadi ada ritus pengorbanannya.

Untuk mengetes kesetiaan dan kepatuhan mutlak para pengikut, mereka biasanya dituntut untuk berkorban. Bentuk pengorbanannya bisa macam-macam. Pokoknya asal itu kata pemimpin, mereka harus menunjukkan kepatuhan. Bisa berkorban dengan dirinya, bisa juga mengorbankan harta. Pada umumnya, dalam gerakan-gerakan sempalan, yang kedua itulah yang lebih sering terjadi, yaitu pengorbanan materi.

Kesan saya: para pengikut kelompok sempalan tampaknya ingin melarikan diri dari suatu otoritas keagamaan yang mapan, tapi justru terjebak ke dalam otoritas lain. Bagaimana menjelaskan itu, Kang?

Dulu pernah ada hipotesis bahwa orang-orang yang masuk gerakan sempalan itu karena mengalami gangguan kejiwaan. Di Amerika, ada ribuan bentuk cult. Tapi ternyata 96% orang-orang yang ikut adalah orang-orang yang secara kepribadian quite-healthy. Jadi mereka sehat-sehat saja. Malah mereka pintar-pintar dan punya posisi sosial yang bagus.

Jadi apa yang salah?

Buat mereka, itu adalah satu keajaiban. Masak orang pintar-terdidik percaya pada yang begituan?! Pasti itu rada gila. Ternyata tidak. Bahkan, banyak yang pintar-pintar, lho! Tapi, memang ada ciri umum dari orang-orang yang itu. Yaitu: mereka adalah orang-orang yang religiously-inclined. Artinya mereka memang sudah cenderung religius, tapi mengalami kebingungan dalam menentukan agama yang akan dianut.

Kalau begitu, orang yang cenderung sekular rada susah terjebak kelompok sempalan, ya?

Ya. Dalam berbagai penelitian tentang kelompok sekte-sekte yang sekuler, apalagi yang liberal kayak anda, mereka terbukti rada sulit untuk ikut aliran sempalan. Apalagi harus patuh pada seorang pemimpin kharismatik. Itu sudah pasti susah. Jadi, biasanya yang ikut adalah orang-orang yang sudah cenderung sangat beragama. Jadi, sasarannya adalah orang-orang saleh, orang-orang taat, tapi tak memperoleh jawaban yang memuaskan terhadap persoalan kehidupan yang dia hadapi dari agama yang dianutnya.

Dan memang, walau mereka tidak mengalami gangguan kejiwaan, tapi selalu ada beberapa jenis situasi kepribadian atau kondisi psikologis yang menyebabkan mereka rentan terhadap pengaruh aliran-aliran sempalan itu. Misalnya perasaan loneliness, atau merasa kesepian. Ada sebuah penelitian menarik dari seorang mahasiswa tentang sasaran kelompok sempalan. Mereka kebanyakan merekrut kalangan mahasiswi.

Khususnya yang sedang jablai atau kesepian, ya?

Ya, para jablai itu yang kemudian bergabung. Jadi, kalau kita kesepian, kita akan mudah dibujuk, quite-persuadable. Yang kedua, orang yang mengalami depresi. Jadi, mereka yang mengalami perasaan sedih berkepanjangan, misalnya karena kehilangan orang yang dicintai. Ketiga, orang-orang yang cenderung melihat masa depan yang tidak pasti. Mereka misalnya melihat negara semakin lama semakin buruk.

Karena itu, mereka ingin mencari pemecahan sangat instan; harus ada tangan-tangan gaib. Dan, kelompok-kelompok ini biasanya mendatangkan tangan-tangan gaib itu. Dan yang terakhir, seperti yang sudah saya sebutkan di awal, orang-orang yang mengalami kebingungan dalam menentukan keagamaan yang akan dia anut. Tiba-tiba saja datang kelompok sempalan memberi jawaban untuk kebingungan itu. Jawaban ini biasanya instan.

Ada juga yang mengaitkan munculnya kelompok-kelompok sempalan sebagai akibat liberalisasi pemikiran. Tanggapan Anda?

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah ada, orang-orang liberal, orang sekuler, atau orang-orang yang benar-benar tidak beriman, biasanya rada sulit masuk aliran-aliran atau sekte-sekte sempalan. Tapi, mungkin ada orang-orang yang misalnya ikut aliran liberal, lalu coba berpikir bebas, akhirnya kebingungan. Dan setelah kebingungan, akhirnya lari ke spiritualitas juga. Dan dia mulai menuding akalnya sebagai sebab kebingungan. Dia tinggalkan akal sama sekali. Para filosof menyebut itu annui. Jadi, ada kejenuhan dalam berpikir.

Martin van Bruinessen menyebut bahwa kelompok-kelompok sempalan itu biasanya mampu menggantikan fungsi keluarga bagi anggotanya. Hubungannya antar mereka sangat intim dan solidaritas kelompok sangat kuat. Akhirnya, orang lupa keluarga asal. Bahkan memvonis keluarga asal bid’ah, kafir, atau musyrik. Bagaimana menjelaskan ini?

Konon, ada kiat-kiat untuk mengenal apakah seseorang sudah ikut aliran sempalan atau tidak. Salah satunya adalah tatkala seseorang tidak mau lagi ikut serta dalam kegiatan-kegiatan keluarga. Jadi, ada sikap yang ekstrem membenci keluarga dan mau lari dari keluarga. Mereka menganggap keluarganya sebagai antitesis dari keyakinannya. Jadi, kalau sudah masuk sekte-sekte Islam, keluarganya dianggap masih jahiliyah dan Islamnya belum sempurna. Sementara mereka sudah bai’at. Jadi menganggap diri sudah masuk Islam yang paripurna. Karena itu, mereka tidak mau lagi ikut kegiatan-kegiatan keluarga.

Pemimpin al-Qiyadah, Ahmad Mushaddeq, menyatakan diri sebagai mesiah yang ditunggu-tunggu. Dia al-Masih al-Mau`ûd. Kita tahu, doktrin mesianisme itu juga bercokol kuat dalam khazanah keagamaan Islam, baik Sunni apalagi Syiah. Seakan-akan ada peluang doktrinal bagi seseorang untuk mengaku dialah sang mesiah itu. Kita mungkin tidak sepakat; mengapa harus dia?! Bagaimana menjelaskan ini?

Konsep mesianisme itu ada dalam semua agama—please note itu ya!—bukan hanya di Islam. Di dalam Hindu, ada kepercayaan bahwa suatu saat nanti Krisna yang menitis pada Kalkhi akan menyelamatkan dunia dari kehancuran. Orang-orang Kristen percaya bahwa suatu saat nanti Yesus akan datang lagi. Karena itu ada aliran Advent. The Second-Advent, sebetulnya. Namanya saja Advent, artinya kedatangan kembali Yesus pada akhir zaman. Bahkan di dalam agama-agama yang kita sebut lokal pun, atau agama suku, ada kepercayaan akan datangnya Ratu Adil.

Walhasil, apakah namanya Imam Mahdi, Mesiah, al-Masih, atau Ratu Adil, itu adalah ajaran dari semua agama. Kalau kata Wilhelm C. Smith, doktrin itu berasal dari agama-agama purba. Sebagai orang beragama, saya percaya itulah salah satu ajaran universal dari seluruh agama. Nah, kelompok-kelompok ini memanfaatkan kepercayaan akan datangnya juru selamat itu dengan menisbahkannya pada para pemimpin mereka. Mengapa itu perlu?

Secara psikologis itu perlu untuk memberikan jawaban terhadap masalah sosial yang mereka hadapi. Misalnya Indonesia ini makin lama makin terpuruk; kehidupan rakyat makin menderita, dan orang-orang mengalami frustasi demi frustasi. Ganti presiden kok malah tidak makin makmur, tapi malah terpuruk. Dalam situasi seperti itu, orang cenderung mencari jawaban. Jawaban yang paling hebat ialah: sebentar lagi akan datang juru selamat. Dalam kepercayaan orang Jawa, akan muncul Satria Piningit. Artinya, sosok yang selama ini tersembunyi akan muncul untuk menyelamatkan kita.

Mula-mula, mngkin aliran-aliran sempalan itu mengaku bahwa Satria Piningit atau Imam Mahdi-nya masih ditunggu, dan mereka hanyalah para tentaranya yang menunggu. Lama-kelamaan, pemimpinnya sendirilah yang mengaku bahwa dialah Satria Piningit itu.

Solusi yang ditawarkan para pengaku mesiah itu kan banyak semunya juga. Padahal, para pengikutnya membutuhkan solusi-solusi kongkret terhadap himpitan hidup yang mereka alami. Apa biasanya substitusi dari solusi kongkret yang dijanjikan para pemimpinnya, Kang?

Ya… harapan. Dalam psikologi mutakhir malah ada disiplin khusus tentang psychology of hope. Di situ dikatakan, harapan membuat kita tetap tegar, betapapun besar derita yang kita hadapi. Hanya karena ada harapan nun jauh di sana, kita akan bangkit kembali. Harapan adalah sumber energi yang luar biasa. Dan setiap aliran sempalan biasanya menjanjikan apa yang oleh psikolog Jerman disebut paradisterhcucum, sebuah surga di masa depan. Bukan di hari akhirat, tapi di dunia ini. Dan itu terjadi pada seluruh kelompok kultus. Menariknya, seluruh aliran sempalan selalu meramalkan kiamat, katastrofi atau bencana alam.

Nabi Muhammad pun menyebutkan bahwa kiamat sudah sedekat dua jari kita…

Ya, peringatan tentang iqtarâbatus sa`ah. Artinya, seluruh ajaran agama pada mulanya juga mengancam orang dengan kiamat yang paling dekat. Yang membedakan agama-agama besar dibandingkan aliran-aliran sempalan adalah: pada aliran sempalan, tokohnyalah yang mengklaim akan segera menyelamatkan kita dari kiamat itu. Jadi, kalau nabi menyebutkan kiamat sudah dekat, dia sendiri tidak merasa bahwa dialah yang akan menghindarkan terjadinya kiamat itu.

Dulu di Bandung pernah berkumpul kelompok umat Kristiani dari aliran tertentu di sebuah gereja. Mereka berkata bahwa sebentar lagi akan terjadi bencana yang akan menghancurkan negeri ini. Tapi si pemimpinnya merasa bahwa dia datang untuk menyelamatkan kita dari bencana. Jadi kiamatnya itu kiamat yang sangat dekat sekali, tidak seperti disebutkan al-Quran: iqtarabatus sa’ah. Ini kiamatnya just in moment. Misal lain saya ambilkan dari—dengan penuh permohonan maaf kepada saudara saya—Ibu Lia Aminuddin.

Dulu, dia pernah memberitahu kepada saya bahwa akan terjadi banjir besar di Jakarta pada hari Sabtu. Jadi sudah ditentukan waktunya: hari Sabtu. Semua kita diminta untuk bersama beliau naik ke puncak. Karena kesibukan, saya lupa akan terjadi bencana itu. Ternyata, pada hari itu banjir tak kunjung datang. Tapi apa kata Ibu Lia dan para pengikutnya? Tuhan menghindarkan Jakarta dari banjir berkat doa-doa kami.

Tampaknya, selalu ada mekanisme seperti itu: meralat prediksi yang nyata-nyata salah…

Betul, meralat suatu prediksi yang salah. Dan ajaibnya, justru dengan itu mereka malah semakin setia. Misalnya David Coresh meramalkan sebentar lagi akan datang alien yang akan menyelamatkan kita dari bencana. Eh ternyata aliennya tidak datang juga. Tapi mereka meyakini bahwa ini bla-bla-bla…. Pokoknya, dalam istilah gaulnya, ada ngelesnya lah.

Mungkin revisi, ya, hehe…

Ya, ada revisi. Jadi kabar itu diberikan makna baru lagi. Sehingga, betapapun salahnya prediksi-prediksi itu, mereka tetap menganggapnya sebagai kebenaran dan wibawa pemimpinnya tidak berkurang karena prediksi yang keliru.

Kalau berkaca pada sejarah, kita tahu bahwa tak jarang suatu aliran yang mulanya dianggap sempalan, dalam waktu tertentu justru jadi mainstream. Bagaimana menurut Kang Jalal?

Ya, kelompok sempalan bisa berubah menjadi social movement, sebuah gerakan sosial. Nantinya, kalau gerakan itu diterima masyarakat, dia akan menjadi agama mainstream. Secara sosiologis, kita memang bisa berkata begitu. Tapi di balik persamaan-persamaan antara munculnya gerakan sempalan dengan gerakan para nabi, misalnya, ada banyak perbedaan mendasar. Di awal saya sudah sebutkan beberapa karakteristik psikologis orang-orang yang masuk gerakan sempalan. Itu sama sekali tidak bisa diterapkan pada gerakan Islam pada masa-masa awal, misalnya, atau gerakan-gerakan agama besar lainnya.

Kenapa tidak?! Bukankah fungsi Nabi juga untuk membawa umatnya dari gelap menuju terang?!

Tidak ada itu di waktu zaman Rasulullah. Tidak ada anggapan bahwa Rasulullah akan membawa terang atau menjadi juru selamat bagi umatnya. Karena itu, kesamaannya cuma satu: mereka adalah gerakan yang diikuti oleh sekelompok kecil orang dengan pemimpin yang sangat berwibawa, yaitu Rasulullah SAW. Tapi itu juga masih pertanyaan besar. Di luar itu ada banyak perbedaan-perbedaan utama. Kita tidak boleh—karena ada satu kesamaan khusus—terus menggeneralisasi.

Lalu apa sikap terbaik dalam menyikapi suatu kelompok sempalan, Kang?

Saya selalu ditanya tentang ini. Pertama-tama, keyakinan saya tentu tidak sama dengan mereka dan saya tidak mengikuti keyakinan mereka. Tapi saya akan tetap menghormati keyakinan mereka. Saya tidak akan mengkriminalisasi mereka. Saya juga tak akan menganggap mereka melakukan penistaan terhadap agama. Saya akan melihat mereka sebagai orang-orang yang haus secara spiritual. Kalau tiba-tiba mereka dibelokkan di tengah jalan, itu not our business. Tapi mereka sudah ada kesungguhan untuk mencari (kebenaran).

Saya teringat Imam Ali yang menyebut orang-orang Khawarij sebagai orang-orang yang sebetulnya sedang mencari kebenaran. Orang yang mencari kebenaran dan tidak menemukannya, kata Imam Ali, lebih baik daripada yang mencari kebatilan dan menemukannya. Artinya, usaha serius mereka itu harus kita hargai. Jadi bukan harus kita kriminalisasikan. Nanti sejarahlah yang akan menentukan. Marilah itu semua kita serahkan kepada mekanisme free market of ideas atau pasar bebas ide.

Tapi iklim persaingan usahanya sebetulnya sudah tidak fair. Mereka sudah dipotong di tengah jalan, bahkan dikriminalisasi…

Itulah bentuk campur tangan di dalam mekanisme pasar bebas. Tapi kalau kita yakin bahwa keyakinan kita benar, kita tak usah takut pada kelompok-kelompok seperti itu. Menurut saya, budaya Orde Baru yang dulu mensaktikan Pancasila sudah merasuki kita. Karena Pancasila sakti, maka semua yang bertentangan dengan Pancasila dilarang. Mestinya, kalau Pancasilanya betul-betul sakti, biarkan musuh-musuhnya menentang dan barulah kita tahu kalau Pancasila itu benar-benar sakti saat penantangnya terkalahkan. Bukan dengan paksaan. [Novriantoni]

Jalaluddin Rahmat, Ketua Dewan Syuro IJABI [Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: