DEMOCRACY OR DEMON CRAZY

Mungkin sudah banyak yang mengulas mengenai demokrasi, dari segala sisi. Ini sekedar tulisan ringan aja dari ane, biar tak menambah jerawat yang makin subur (wah kalo banyak jerawat, berarti banyak ide nih…. )

Ane mau bahas kelemahan demokrasi aja yang digembar-gemborkan oleh barat sebagai sesuatu yang agung dan patut diperjuangkan, bahkan dengan mengorbankan ribuan en sigh jutaan penduduknya. Death toll di iraq aje sekarang udah lebih dari 1.1 juta orang (what a crime). ketika beberapa orang pegawai AS meninggal akibat serang di iraq beberapa waktu lalu aje, condi ampe nangis. Tapi nt-nt tak menganggap kami manusia sehingga layak ditangisi, padahal jutaan orang udah nt buat jadi mati, dan setengah penduduk nya engkau bikin mengungsi. Belum lagi kejahatan perang di Vietnam, di Afganistan, Filistin, sudan, Somalia, eh sekarang mau tambah lagi ke Iran. Semua itu katanya untuk membebaskan penduduknya dari sistem dipakai Negara itu sekarang. Membuat mereka berdemokrasi dengan sesungguhnya (menurut klaim mereka sendiri).

Ada beberapa point yang bisa ane ambil yang merupakan kekurangan dari system demokrasi.

A. Biaya yang besar

Kita ke dalam negeri aje, pernahkah nt menghitung berapa biaya yang diperlukan untuk operasional partai, pencalonan presiden, pembuatan image di mass media ttg profil presiden, biaya kpu pusat, kpud I dan II, biaya pemilihan legislatif pusat, daerah, pemilihan gubernur, walikota, bupati, camat, kades. Biaya kampanye, uang sumbangan masing-masing calon, uang saku, uang stiker, uang baliho, uang rokok, uang pengawalan, uang kaos, uang untuk artis, uang transport, uang lelah tim sukses, uang pesta, uang makan, uang doorprize, uang mobilisasi massa, dst… Seperti sudah diketahui, bahwa indonesia memiliki 33 propinsi, sekitar 370 kabupaten dan kotamadya. Belum lagi ribuan desa. Coba nt nt ngitung dengan googling sana-sini, pasti diatas seratus triliun rupiah.

B. Rawan korupsi dan KKN

Nah biaya ini ada yang dikeluarkan dari kocek pribadi, maupun sumbangan dari donatur. Kalau misalnya si calon ini udah tak tergiur harta (mungkin dia sudah taraf zuhud atau yang dipentingkan adalah gila kekuasaan) maka dari sisi harta itu sih agak kurang masalah. Tapi kebanyakan adalah tidak seperti itu. Dana itu harus kembali, paling tidak balik modal. Dan bila dari donatur, maka harus ada timbal jasanya, entah itu pelicin proyek, penghalus usaha, dll. Sehingga ada mark up proyek, pembengkakan dana, dst. Banyak anggota dewan korupsi berjamaah, akhirnya banyak lembaga anti korupsi dibentuk, sudah ada BPK, KPK, ICW, dll. Semua butuh dana lagi. Jadi ini adalah ibarat efek sebab akibat yang biasa. Sistem yang ada sekarang memang sangat rawan untuk timbul seperti itu. Karena itu adalah seperti bunga dengan kumbang, air dengan jamur, garam dengan asinnya, setali tiga uang.

C. Penguasa opini yang menang

Karena suara ada di tangan rakyat, maka yang paling bisa menggiring opini publik lah yang cenderung dipilih. Paling bisa ngibul, paling bisa ngambil ati rakyat, paling ganteng (untuk ibu-ibu biasanya), paling ngasih angpao terbanyak, saudara dekat, kerabat, satu visi, satu daerah, suku, ras, dll. Nah yang paling menguasai media itulah yang akan memenangkan opini publik, paling bisa menggiring atau mengambil hati rakyat (nah tentu ini memerlukan media lagi). Bahkan sampai segala cara akhirnya digunakan untuk memperoleh dukungan dari komunitas tertentu. Mulai dari sok musisi saat jumpa dengan para artis, sok alim saat sowan ke pesantren, sok pintar di kalangan akademisi, sok gaul di kalangan ABG, bahkan di negara tertentu ada yang sok gay, lesbi, mendukung mereka, dst. Jadi ini paling tidak menyuburkan budaya nifaq. Budaya pura-pura, tak punya idealisme, yang penting jadi pemimpin. Kalau sudah kepilih apa kata nanti, lupakan janji. Yang penting donatur harus dipenuhi haknya. Bukan hak rakyat…

D. Golput tidak dihitung

Di negara kita baru-baru ini golput di beberapa pilkada mencapai 40 persen an. Di AS juga berkisar seperti itu. Ini tentunya lebih besar dari dukungan ke partai atau calon dari pihak manapun. Jadi kebanyakan sudah masa bodoh terhadap sistem itu. Dan sayangnya golput ini tidak dianggap, tidak diperhitungkan sebagai keabsahan suatu sistem pemilu. Tidak ada dalam aturan kuorum mengenai golput ini. Padahal inilah suara terbesar, yang tak terakomodasi, tapi terabaikan. Tentunya macam-macam alasan yang dikemukakan dari pendukung golput ini, ada yang sakit hati, ada yg tidak sesuai, ada yang sibuk, dst.

Jadi kalo dibilang demokrasi mengakomodasi suara rakyat itu sih non sense. Terbukti dari golput ini.

E. Kebijakan adalah apa kata donatur

Kebanyakan donatur tentunya ingin timbal balik, entah itu fasilitas di bidang usaha mereka, visi kelompok yang diusung, dll. Di AS ada AIPAC yang sangat berpengaruh pada kebijakan AS, meski sebagian besar penduduknya (setidaknya menurut poling) tidak setuju dengan perang di irak, tetapi toh tetap jalan dengan lobi, dengan kampanye ke publik, dengan poling ini-itu, dst. Akhirnya kebijakan itu lebih banyak mengakomodasi kepentingan para donatur dari pada memikirkan kepentingan rakyat. Ada juga kebijakan BBM, pendidikan dimodel otonomi (imbasnya pendidikan mahal, jadi secara sadar atau tidak sistem ini memaksa jadi bangsa babu, bangsa yang kurang akal, dst). Kebijakan kepemilikan usaha asing, penanaman modal, kebijakan pensiun (yang makin dikurangi sistemnya), dll. Selama sistem kayak seperti ini kayaknya agak susah untuk mengalami perbaikan (mungkin cocok kalau sebagian besar masyarakatnya sudah ’dewasa’).

F. Tujuan penciptaan diabaikan

Hal yang diangkat untuk memperoleh dukungan bagi pemilih adalah hal yang menyenangkan bagi pemilih. Nah kebanyakan manusia tuh (setidaknya menurut ane) kurang mengerti akan tujuan dari penciptaan alam semesta (termasuk didalamnya manusia-karena itulah jumlah filsuf, urafa, kyai, ulama, dll lebih sedikit dari orang kebanyakan). Sehingga mereka menuntut untuk yang dipenuhinya keinginan saat ini, keinginan jangka sangat pendek, kesenangan yang bahkan menjerumuskan, kesenangan yang merusak, dst.

Kalau dilihat dari piramida mengenai kesadaran dan kepandaian seseorang, maka jumlah orang yang pintar dan sadar akan tujuan hidup sangat sedikit. Dan yang paling banyak adalah rakyat kebanyakan. Dan pada puncaknya adalah al Musthofa seorang diri.

Nah kalau nilai atau jumlah suara dibandingkan, maka tentunya suara orang yang pintar ini akan kalah dengan rakyat kebanyakan.

Akhirnya proses atau sistem ini dilakukan mengikuti rakyat kebanyakan (jika memang demokrasi diterapkan dengan sungguh-sungguh), yang kesadarannya masih kurang, pandangannya masih terbatas, mudah untuk dinina bobokan dengan kesenangan semu. Dan kebanyakan hawa nafsu mengajak ke arah kejelekan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhan Nya.

Sesungguhnya sistem demokrasi bukanlah sistem mulia tanpa cacat yang patut untuk diperjuangkan dengan mengorbankan jutaan manusia. Sistem ini tidak sepenuhnya mendukung dan mendidik manusia mencapai tujuan penciptaan manusia, sistem ini banyak mengikuti mode, tren dan gaya manusia pada saat itu, kurang bertujuan jangka panjang dan jangka sangat panjang (akhirat). Sistem ini sama dengan sistem-sistem yang lain, memiliki kelebihan dan kekurangan. Baik sistem monarki, teokrasi, komunis, dll.

Kita menunggu datangnya sistem theokrasi sesungguhnya, bukan theokrasi-theokrasian (dimana orang yang mengaku wakil Tuhan kelakuannya bak binatang, kebijakannya merusak, hukum alam diterjang, dll). Dimana pucuk pimpinan adalah orang yang jelas-jelas di nas kan dan di jelaskan secara jelas ditunjuk oleh Tuhan. Yang paling mengetahui tujuan penciptaan, sehingga kebijakan yang diambil akan menyelaraskan dan mendukung manusia mencapai kemuliaan sesungguhnya. Yang paling mengerti tafsir kitab Tuhan sesuai jaman, kondisi, dan berbagai keadaan. Yang paling mengerti ’sakit’ manusia dan mampu memberikan obat yang tepat. Yang paling tahu akan keseimbangan dan kebutuhan alam semesta, sehingga segala pengaturannya akan ditunggu seluruh makhluk hidup. Yang paling mulia diantara manusia saat itu, sehingga seluruh makhluk di dua alam akan tunduk pada titahnya.

Ya Mahdi kami menunggumu, Adrikni ya Mahdi.

AB12

One Response to “DEMOCRACY OR DEMON CRAZY”

  1. Salam,

    Demokrasi atau Theokrasi..sy kira itu realitas kehidupan sosial politik sesuai zaman nya. Walau Syiah berpendapat bahwa Pemimpin berasal dari Tuhan, tapi realitas kepemimpinan saat ghaib nya Mahdi as mengikuti corak demokrasi, atau tepat nya demorasi religius. Seluruh Mahzab Islam saat ini tidak memiliki perbedaan soal kepemimpinan realitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: