Abstrak [Sinopsis Hidup]

Manusia dalam hidupnya selalu merindukan kebahagiaan. Banyak orang yang menduga bahwa manusia tidak akan mencapai kebahagiaan selama ia terikat pada suatu aturan hukum tertentu. Namun pengalaman waktu menjungkir balikan paham ini. Fakta sejarah menunjukan, kebahagiaan yang hakiki ternyata bukanlah berasal dari pola hidup bebas seperti burung sebagaimana yang dipraktekan oleh kaum hippies tempo dulu, melainkan justru diperoleh melalui pola hidup yang konsisten mentaati suatu aturan tertentu. Aturan dimaksud, ada yang merupakan buah karya para manusia bijak dizaman lampau, ada pula yang diyakini dibuat langsung oleh Sang Maha Pencipta Alam Semesta ini. Orang menyebutkan aturan-aturan ini dengan istilah agama. Oleh karena itu, pada hakikatnya agama adalah suatu pedoman hidup yang menuntun penganutnya untuk mencapai kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun kehidupan Akhirat nanti. Tentunya setiap pedoman hidup atau agama tidaklah sama; makin canggih suatu pedoman hidup, maka semakin pasti pula kebahagian yang didambakan itu menjadi kenyataan.

 

Sebagai langkah awal dalam mencari kebahagiaan, para pakar sependapat bahwa manusia harus menyadari terlebih dahulu tentang makna keberadaan di dunia ini. Al-quran sebagai pedoman hidup yang diyakini berasal dari Tuhan Pencipta Langit dan Bumi, menjelaskan tentang konsepsi manusia dengan amat gamlang, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (1596), dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Surat An-nissa ayat 13 dan 14 Menyebutkan :

 

تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيم

 

وَمَن يَعْصِ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَاراً خَالِداً فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ

 

Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukan kedalam surga. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukan kedalam api neraka sedang ia kekal didalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan”.

 

Manusia merupakan mahkluk yang diberi kebebasan penuh dalam bertindak, apakah ia mau taat pada aturan main yang dibuat oleh pencipta dan rasul-Nya, atau ia mau membangkang.  Bagi yang taat akan diberi kenikamatan surga, dan bagi yang membangkang  akan di beri ganjaran neraka,. Disamping itu pengalaman membuktikan, orang yang taat melaksanakan aturan main ini. Ternyata di kehidupan dunia memperoleh kebahagaiaan. Dengan demikian, kebahagaiaan hakiki ini hanya akan dapat dicapai bila orang mampu taat secara total melaksanakan aturan yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana teertuang dalam Al-Quran dan Hadist. Hanya sayangnya -dalam prakteknya-  ternyata untuk dapat selalu taat pada aturan main ini tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan adanya dorongan hawa nafsu ataupun setan yang selalu menggoda. Dengan perkataan lain, bila manusia mampu mengendalikan yang ada pada dirinya dan menundukan setan yang selalu menghimbau untuk membangkang, maka ia akan dapat selalu taat melaksanakan aturan main yang dibuat-Nya itu. Paradigma yang sampai saat ini masih di anut  oleh sebagian besar adalah kita harus berjuang sekuat tenaga melwan kehendak nafsu. Setiap nafsu jelek ini muncul harus kita perangi. Dengan demikian hidup ini selalu disibukan dengan peperangan hawa nafsu. Ini tentu saja sangat melelahkan.

Ada tawaran alternatif lain, tidak lagi berjuang habis-habisan untuk mengalahkan nafsu, tetapi berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan keyakinan-keyakinan Ilahiyyah melalui perenungan demi perenungan. Hal ini dikarenakan bila kalbu memiliki banyak keyakinan-keyakinan ilahiyyah maka otomatis nafsu/ setan tidak akan berdaya. Dengan demikian, keyakian yang ada didalam kalbu itulah sebenarnya yang akan menentukan sikap seseorang, apakah ia akan taat pada aturan main atau melanggarnya.

 

Pengalaman mengajarkan, “keyakinan” seperti layaknya anak tangga, tidak datar tapi bertingkat-tingkat.seseorang tidak akan dapat mempunyai keyakinan yang ada di tingkat ke tiga bila ia belum memiliki keyakinan yang berada di anak tangga pertama dan kedua. Seperti halnya seorang siswa sekolah dasar tidak akan dapat memahami akar bilangan 625 adalah akar sama dengan 25, bila ia sebelumnya tidak mengerti mengenai penjumlahan dan perkalian dari satu bilangan.

 

Penghantar merenung untuk tafakur bagi orang yang ingin memfungsikan akal dan kalbunya dalam upaya menggapai kebenaran yang hakiki.

 

Wallahua’lam bishshawab.

 

Ebayy^_^

2 Responses to “Abstrak [Sinopsis Hidup]”

  1. dr.saidi Says:

    salam,

    “sesungguhnya SHOLAT itu mencegah perbuatan keji dan mungkar”

    afwan, ana memandang SHOLAT di sini PENGHAMBAAN, bila manusia menempatkan posisinya pada dimensi penghambaan kpd Allah yang akan melahirkan ketaatan mutlak, maka niscaya
    tercegah dari perbuatan keji dan mungkar.

    layaknya seorang budak/hamba sahaya, sepenuhnya milik majikannya. apapun turut perintah dan larangan majikannya.

    bila sampai maqom budak ini aja sudah bagus, namun manusia tetap berusaha sampai kepada maqom yg tertinggi yaitu maqom cinta ” karena hanya Dia lah yg layak di sembah “

  2. Assalam alaikum wr wb ^_^
    Bayy… tulisannya aku copas ya??
    kasih aja ya???
    please….
    (athief)
    Wassalam alaikum wr wb^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: