Tak Bergantung

Chapter 2 :

Tak Bergantung

G : Oke anak-anak kita mulai lagi sesi diskusi pada pelajaran kali ini. Ada ide atau pertanyaan dari sesi diskusi sebelumnya? Yang bisa kasih pertanyaan ada hadiah menarik… Tentunya pertanyaan yang layak saja….

M : Saya pak. Apa manfaat bagi kita mengetahui tentang tuhan?

M : Saya juga pak. Kenapa tuhan kok satu?

M : Kalau saya… Ehm… Apa tujuan tuhan menciptakan kita?

M : Mungkin kita lanjutkan yang kemarin saja pak mengenai wajibul wujud atau causa prima…

G : Cukup-cukup, banyak sekali idenya, dan bagus semua. Sayang saya cuma bawa satu hadiah. Dibagi-bagi aja ya…

M : ya paaaaak.

G : Supaya runtut dengan pembahasan sebelumnya, mungkin kita lanjutkan dengan wajibul wujud aja ya, sesuai dengan saran dari teman kalian. Nah untuk mempermudah diskusi ini, saya akan memancing dengan pertanyaan ini, coba kalian pikirkan dengan baik. Kemudian yang ada ide silahkan dilontarkan. Tak usah malu. Dan bagi yang lain saya minta diperhatikan ide teman kalian, gak boleh ada cemoohan, ancaman atau kafir-kafiran. Disini mimbar bebas, setuju!

M : SETUJUUUUU……

G : Pertanyaannya adalah : apakah wajibul wujud itu butuh sesuatu?

M : TIDAAAAAK

G : Kenapa kok tidak butuh

M : Ya emang begitu…

M : Kalau butuh sesuatu berarti dia bukan wajibul wujud

M : huuuu…….

G : apakah wajibul wujud butuh ruang? Atau menempati ruang tertentu

M : yap

M : tidak

M : ???

M : pasti menempati area tertentu, karena kan gak mungkin ada sesuatu yang tidak berada di suatu area tertentu

M : setahu saya Dia menempati yang namanya Arsy

M : betuull (tepuk tangan)

G : Wah disini kayaknya ada yang jago tafsir ya?

M : hi hi hi hi

M : (malu)

G : Jadi apakah tuhan butuh tempat? jadi duluan mana tuhan atau tempat?

M : tuhan

M : tempat

M : arsy

M : ???

G : gimana nih? Mana yang betul menurut kalian?

M : Gak mungkin ada sesuatu yang tidak menempati ruang atau tempat tertentu. Yang menurut saya ruang itu dinamakan arsy…

M : Jadi menurut kamu ada arsy dulu baru tuhan?

M : ya (dengan mantap)

M : jadi siapa yang menciptakan arsy?

M : ya tuhan donk… (agak bingung)

M : jadi dulu mana arsy sama tuhan ??

M : ???

M : Gimana pak? Mungkin bisa dijelaskan pak?

M : iya pak, pusing….. kayak telor ama ayam…

G : Dipikir dulu, barangkali ada diantara kalian yang menemukan petunjuk…

M : (hening, saling kasak-kusuk)

G : (setelah agak lama) Yang membuat kalian bingung adalah karena kalian semua menyamakan wajibul wujud (tuhan) dengan makhluk dan ciptaan. Padahal dari diskusi sebelumnya sudah diperoleh kesimpulan bahwa penyebab segala sesuatu dan yang pertama dan utama adalah wajibul wujud, dan tidak ada sebab atau hal lain yang mendahuluinya. Jika ada sebab atau hal lain yang mendahuluinya, maka sebab atau hal tersebut pastilah wajibul wujud. Yang harus ada tanpa sebab sebelumnya. Sesuai dengan hasil diskusi kita sebelumya. Nah yang membuat kalian bingung adalah menyamakan wajibul wujud dengan fenomena yang kalian lihat saat ini. Jadi kalian mestinya bisa memisahkan antara wajibul wujud dan makhluk atau mumkinul wujud (istilah dalam bahasa arab). Mungkin bagi kalian agak susah membayangkan ada sesuatu zat yang tidak membutuhkan tempat atau ruang. Hal ini karena nalar dan otak kita selalu melihat segala sesuatu dan terbiasa dengan penglihatan tersebut, dan seakan-akan menganggap itu semua sebagai kebenaran.

Supaya tidak bingung ringkasnya begini jangan menyamakan wajibul wujud dengan mumkinul wujud yang butuh akan ruang, oke….

M : Bingung pak

M : ya pak…

M : (suara pelan) dogma lagi nih…

G : Jadi sebetulnya nalar kita sudah meyakini adanya wajibul wujud yang tak bergantung pada sebab lain (termasuk ruang). Hal ini sesuai dengan hasil diskusi kita sebelumnya… setuju…

M : betul pak… (ada yg garuk kepala)

G : Cuman masalahnya nalar kita sudah terbiasa melihat dan mengindera segala sesuatu yang menempati ruang tertentu. Misalnya mobil, digarasi, kita di kelas, ada pohon di hutan, di bumi, di antariksa, galaksi, dst. Jadi nalar kita disatu sisi menerima dalil wajibul wujud, disisi lain bingung membayangkan sesuatu yg tak menempati ruang.

M : BETUULLLL

M : Ya pak, lalu bagiamana penjelasannya yang mudah.

G : Itulah kelemahan kita atau otak kita

G : Kita terbiasa melihat segala sesuatu dan memastikan hal itu sebagai kebenaran. Sama seperti dalil sebab akibat kemarin, kita kayaknya tidak bisa membayangkan ada sesuatu zat yang ada tanpa disebabkan sesuatu. Padahal kalau hal itu tak ada maka kita saat ini tak ada.

M : Pak bisa dikasih contoh pak.

G : Begini (sambil memikir sebentar). Kalian pernah praktikum fisika mengenai pensil dimasukkan gelas bukan ??

M : ya pak (ada yang diam karena waktu itu tidak masuk)

G : Nah itu menunjukkan adanya tipuan penglihatan kita, kita melihat pensilnya menjadi bengkok sewaktu dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air. Padahal akal kita meyakini bahwa pensil itu tidak bengkok. Hanya tipuan penglihatan saja. Berbahagialah bahwa kalian dibekali akan dan nalar, jadi tidak gampang tertipu…

M : Ha ha ha ha

G : Begitu juga dengan masalah tadi, mengenai tuhan yang tidak menempati ruang. Indera kita terbiasa melihat segala sesuatu menempati ruang. Tapi alhamdulillah kita masih dibekali akal yang mampu menganalisa, bahwa wajibul wujud tidak mungkin menempati ruang.

M : ya ya ya

M : begitu ya pak…

M : Bapak memang pinter deh, tak salah jadi guru….

M : ha ha ha ha….

M : tanya pak, jadi bagaimana dengan ayat yang mengatakan bahwa tuhan menempati arsy?

G : ada yang mau ngebahas ini?

M : pak mungkin bisa disebutkan itu dari surat mana ayat berapa?

M : iyah pak, dan kalau mungkin artinya dan tafsirnya sekalian

G : Begini saja deh, karena untuk membahas itu kayaknya butuh waktu lama (sambil melihat jam). Mungkin bisa dibahas di sesi diskusi yang lain, gimana?

M : ya pak….

G : Nah dari pembahasan kita pagi ini bisa disimpulkan bahwa wajibul wujud (tuhan) tidak membutuhkan ruang. Sepakat…

M : sepakat, setuju, ya….

G : Dengan cara yang sama kalian bisa menguraikan untuk waktu, gerak, dll. Jadi diharapkan nantinya kalian akan memahami bahwa wajibul wujud pun tidak terikat oleh waktu, gerak, dll.

G : Mungkin di sesi yang lain kita bisa sedikit bahas ini, jika masih ada sedikit ganjalan.

G : sekarang sudah waktunya istirahat, kalian boleh istirahat sekarang.

M : Ya pak, (meninggalkan kelas, ada yang ke toilet, ke kantin, dan ada yg tetap aja di kelas, sambil ngobrol alias diskusi offline).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: