Tidak Butuh = Sempurna

Chapter 3

Tidak Butuh = Sempurna

Pada saat jam istirahat di salah satu gazebo

M : Pak minta bantuannya ke sini pak.

M : Iyah pak, barangkali bisa bantu kami, sebagai nara sumber.

M : kami lagi diskusi tentang wajibul wujud pak, tapi mentok. Tidak ada titik tengah.

G : Oh begitu ya, boleh-boleh. Gimana diskusinya tadi?

M : Dari hasil diskusi kemarin, maka wajibul wujud itu pasti ada, dan dia tidak ada sebab yang mendahuluinya. Kemudian wajibul wujud tidak terikat sama ruang, karena dia yang menciptakan ruang, termasuk waktu, dlsb.

G : Yah betul.

M : Trus yang membuat kami bingung adalah apakah ketidak terikatan wajibul wujud akan segala sesuatu sama dengan ketidak butuhan akan segala sesuatu?

M : Ya pak, soalnya kami melihat ada makhluk (termasuk saya) ini diciptakan, trus kalau memang tidak butuh kenapa diciptakan?

M : Ada lagi alam semesta. Bumi, langit dan segala isinya semua adalah ciptaannya. Bukankah hal ini menunjukkan bahwa dia itu masih butuh sesuatu?

M : Dan ada lagi yang menyebutkan tadi bahwa salah satu tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah. Hal ini pun menunjukkan bahwa Dia butuh untuk di ibadahi? Apa begitu pak?

G : Wah diskusinya kok jadi tingkat berat begini yah… Banyak sekali pertanyaannya. Tetapi semua menarik untuk dibahas.. Tapi apakah waktu istirahat ini mencukupi untuk membahas semuanya, saya tidak yakin. Mungkin kita bahas satu aja dulu, mudah-mudahan kalian semua bisa lanjutkan sendiri diskusinya dengan menggunakan metode yang sama.

G : Nah untuk memudahkan alur diskusinya, bapak akan memulai dengan pertanyaan sederhana dulu.

G : Kenapa kalian makan dan minum?

M : Karena lapaar pak..

M : Iyah, dan juga haus…

M : Hi hi hi hi

G : Kenapa kalian tidur?

M : Ngantuk pak

M : Capek

M : Malam, butuh istirahat.

M : ?? (mengernyitkan dahi, mencoba mencari arah pembicaraan guru)

G : Ada yang pernah baca tentang teori kebutuhannya Maslow?

M : Belum pak… (kompak sekali)

G : Ya sudah tidak usah dibahas aja, nanti malah pusing..

G : Kalau kalian tidak makan atau tidak tidur bagaimana?

M : Wah tidak bisa pak, pasti mati.

M : Gak mungkin pak, karena itu kebutuhan pokok manusia.

M : Mungkin bisa, tapi tidak selamanya tidak makan dan tidak tidur.

M : apalagi gue 1 hari tidak makan pasti deh maag gue kumat.

M : Huuuuuuuuu

G : Jadi dulu mana, kemunculan manusia dan kebutuhan makan dan tidur tadi?

G : Duluan mana antara kelahiran manusia dan kebutuhan pokok tadi?

M : (bingung) ???

M : bareng pak. Ketika manusia itu lahir, pada saat itulah kebutuhan tersebut menyertainya. Sejak bayipun manusia butuh makan dan tidur.

M : Setuju pak..

G : Ada yang punya pendapat lain?

M : (saling lihat temannya), tidak pak…

G : Mungkinkah manusia tidak membutuhkan makan, minum dan tidur?

M : TIDAAAAK

G : Mungkinkah ada manusia yang tidak membutuhkan ruang untuk menetap?

M : Tidaak

M : Maksudnya?

G : Mungkinkah ada manusia yang tidak menempati suatu tempat tertentu, misalnya kamar, bumi, sekolahan, dibawah langit, dll…

M : TIDAAK

G : Nah dari sini kelihatan bahwa kalian semua (khususnya saat ini) bergantung dan butuh akan sesuatu, apapun namanya. Makan, minum, ruang, waktu, dll. Apakah wajibul wujud juga seperti kalian yang butuh sesuatu?

M : Tidaaak…

M : Ya itu pak masalahnya, yang kami bingung…

G : Coba jawab bapak, kenapa kalian (yang mumkinul wujud) menyamakan diri kalian dengan wajibul wujud?

G : Kenapa kalian pikir wajibul wujud membutuhkan sesuatu seperti kalian?

G : Kalau wajibul wujud butuh akan ruang, (seperti pembahasan lalu) maka akan timbul kerancuan mana yang duluan ada, wajibul wujud atau ruang. Padahal yang menciptakan ruang adalah wajibul wujud.

M : Ya… ya … ya..

G : Begitu juga dengan kebutuhan yang lain-lain, entah itu makan, minum, penghargaan, penghormatan, penyembahan, dst.

G : Dengan kata lain saya mau mengatakan bahwa kebutuhan menunjukkan akan adanya kekurangan dari sesuatu yang harus dipenuhi.

M : Wah pusing pak, bahasanya ketinggian.

G : Kalau kalian butuh makan, berarti menunjukkan ketergantungan atau kebutuhan kalian akan makan

G : Begitu juga dengan haus, menunjukkan kebutuhan kalian akan minum.

M : Betul pak.

G : Nah apakah wajibul wujud butuh sesuatu? Kalau dia butuh akan sesuatu, maka menunjukkan adanya kekurangan pada dirinya, kalau ada kekurangan pada dirinya menunjukkan ketidak sempurnaan dia. Kalau dia tidak sempurna dan kekurangan maka harus ada pemenuhan kebutuhan atas kekurangan tersebut, kalau dia masih serba kurang, maka dia tak mungkin menjadi wajibul wujud. Karena wajibul wujud yang kurang akan sesuatu menunjukkan bahwa ada sebab atau sesuatu hal yang mendahuluinya, yaitu kekurangan itu sendiri..

M : Wah mbulet pak.

M : Pusing

G : Coba catet pernyataan diatas, jika dia kurang akan sesuatu maka tak mungkin disebut wajibul wujud.

G : Sama seperti pembuktian sebelumnya, tentang ruang. Kalau wajibul wujud butuh ruang, berarti ada yang mengadakan ”ruang” tersebut untuk ditempati wajibul wujud.

Padahal hal tersebut tak mungkin. Karena wajibul wujud adalah sebab pertama, maka tak mungkin ada lagi yang mengadakan sebelum wajibul wujud.

G : Gimana?

M : Yah walaupun agak rumit, akan kami pikir dulu pak…

M : Sambil merenung dirumah, waktu mau tidur.

G : Yah gak papa, mungkin agak rumit ya, tapi bapak agak susah juga untuk menyederhanakan perkataan sebelumnya.

G : Mungkin kalian sambil baca-baca referensi mengenai hal ini, untuk mempermudah, tuh di perpustakaan banyak, atau lewat internet.

M : Jadi tak mungkin wajibul wujud itu butuh akan sesuatu ya?

G : Betul…

M : Kalau masih butuh berarti bukan wajibul wujud

G : Betul…

M : Butuh menandakan tidak sempurna

G : Betul itu…

M : Tidak sempurna tak mungkin menjadi wajibul wujud

M : Karena hanya yang sempurna yang bisa menjadi wajibul wujud

G : Wah kayaknya sebagian teman kalian sudah ketemu alurnya… Untuk pembuktiannya kenapa yang sempurna aja yang bisa menjadi wajibul wujud, kalian bisa uraikan seperti kebutuhan akan ruang (yang sudah dibicarakan kemarin). Yaitu mungkinkah wajibul wujud butuh ruang ?

M : Ya ya ya ya

M : Kayaknya sudah agak masuk pak

G : Ada yang mencatat kah diskusi ini?

M : Ada yang merekam pak.

G : Baik, nanti salah seorang dari kalian mencatatnya, kemudian dipelajari lagi bagi yang kurang paham. Coba kalian belajar kelompok. Dan si A itu kayaknya sudah mulai paham alurnya, bisa kalian jadikan nara sumber.

M : Baik pak…

M : Tapi pak bagaimana tentang kebutuhan tuhan akan disembah, terus kenapa menciptakan alam dan seisinya? Bukankah itu menunjukkan adanya kebutuhan??

G : (sambil melihat jam) Sebenarnya mengenai hal ini agak panjang pembahasannya. (bel masuk pelajaran berbunyi).

G : Tetapi intinya begini, misalnya ibadah, itu bukan untuk tuhan, dia tidak butuh untuk disembah, tidak butuh dihormati, atau disujudi. Jadi semua itu untuk kita sendiri. Mungkin sebagian dari kalian pernah dengar bahwa jika seluruh penduduk bumi musyrik, tidak akan mengurangi kekuasaan Nya, begitu juga jika penduduk bumi semuanya beriman, tidak akan menambah keagungan Nya.

M : Betul pak….

G : Kayaknya sekarang sudah waktunya masuk. Kapan-kapan kita lanjutkan lagi, bila ada waktu dan kesempatan..

M : BAIK PAAAAK….

One Response to “Tidak Butuh = Sempurna”

  1. CD PENDIDIKAN INTERAKTIF LENGKAP!
    BELAJAR MENJADI TIDAK MEMBOSANKAN

    DAPATKAN DISKON 15% UNTUK BELANJA ONLINE DI
    http://WWW.BAMBOOMEDIA.NET
    BAMBOOMEDIA.NET

    GUNAKAN KODE VOUCHER :
    668090

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: