Wajibul Wujud Pasti Satu

Chapter 4 :

Wajibul Wujud Pasti Satu

G : Oke anak-anak, jangan bosan-bosan berpikir ya. Sekarang saatnya diskusi lagi.

M : Horeeee……..

M : ya paaak

G : Ada pertanyaan dari diskusi sebelumnya, sebelum kita buka topik baru?

M : Pak tanya pak? Apakah bisa membuktikan keberadaan tuhan dengan quran? Termasuk sifat sifatnya? Walaupun sedikit atau banyak bapak kemarin-kemarin juga sedikit menyinggung ayat quran untuk menunjukkan sifat-sifatnya. Kayaknya kurang konsisten nih bapak….

G : Wah pertanyaan hebat dan kritis. Karena bertanya kepada saya, ya saya jawab saja.

G : Sebenarnya pembahasan ini agak sulit, tetapi tidak mengapa akan saya coba uraikan aja. Sekarang coba jawab pertanyaan bapak, tidak kah ada meubel jadi dengan sendirinya?

M : Tidak ada pak

M : Pasti ada yang membuatnya

M : Bapak saya tukang meubel pak….

M : suit suit….

G : Nah begitu juga quran. Tidak kah dia ada pembuatnya?

M : Betul pak….

G : Nah cuman masalahnya siapa pembuatnya… Ini yang masih banyak kemungkinan.

M : Kok bisa begitu pak…

G : Iya, pertama kalian harus buktikan dulu bahwa quran benar-benar dibuat atau firman Tuhan.

M : Wah jadi mbulet donk…. masak harus percaya firman Nya dulu baru percaya Tuhan.

G : Nah itu yang saya bilang, ini agak sedikit rumit. Makanya bapak sengaja menjauhi metode ini, karena mungkin akan membingungkan.

G : Tentunya untuk memastikan bahwa kitab (quran) itu adalah firman Tuhan ada metode-metodenya. Dan mungkin bisa dibahas di lain waktu.

G : Jika dengan metode tersebut kalian sudah pastikan bahwa tidak mungkin ada makhluk yang membuat kitab ini, maka dengan sendirinya kalian akan tahu bahwa kitab ini dapat dipercaya.

M : Pak mungkin bisa sedikit disinggung metodenya pak?

G : Ya banyak tentunya, pertama kalian bisa periksa apakah ada kesalahan atau kesimpang siuran dari seluruh kata yang ada didalamnya, kemudian kalian bisa periksa sejarahnya, ketinggian bahasanya, tantangan-tantangan didalamnya, kecocokan kejadiaannya, isinya, i’jaznya, dll. Tentunya hal ini membutuhkan pengetahuan-pengetahuan pendahuluan tentang perbandingan, sehingga akhirnya bisa diambil suatu kesimpulan. Bahwa kitab ini bukan dibuat manusia. Dan metode pembuktian seperti ini sangat rumit dan rawan akan kesalahan.

M : Jadi bagaimana??

G : sebenarnya bapak tidak menganjurkan menempuh pembuktian melalui metode ini. Karena dari itu bapak sangat sedikit mengutip ayat al quran, karena kita belum sampai ke arah sana.

G : kalau sebelumnya bapak sedikit mengutip ayat dari quran, maka itu tak lain adalah menjawab dari pertanyaan rekan kalian yang bertanya dengan mendasarkan pengetahuannya tentang al quran. Dan yang saya sampaikan pun sedikit menyanggah pemahaman teman kalian yang (mungkin secara dogmatis) dipelajarinya. Jadi cuman sedikit menyampaikan bahwa yang diterimanya saat ini tidak sepenuhnya seperti itu maksudnya.

G : Nah agar tidak makan waktu lama, bapak akan lontarkan topik. Berapakah jumlah wajibul wujud itu?

M : Satu……… (sangat kompak, mungkin karena background agama keluarganya kali…)

G : Coba uraikan dan buktikan!

M : Kalau tidak satu pasti ada kekacauan.

M : Iya betul, kalau lebih dari satu maka masing-masing wajibul wujud akan mengarahkan kepada tujuan masing-masing sehingga timbul benturan dan kekacauan sana sini.

G : Apakah kalian yakin bahwa misalnya ada dua wajibul wujud terjadi benturan atau masing-masing wajibul wujud punya tujuan berbeda?

M : Ya pasti donk…

M : ???

G : Gimana kalau misalnya masing-masing wajibul wujud saling kompromi dan gencatan senjata, dan berjanji tidak saling mengganggu satu sama lain. Bukankah juga tidak terjadi kekacauan?

M : Yah gak mungkin pak…

G : Atau misalnya begini tuhan A menguasai daerah A, dan tuhan B menguasai daerah B, masing-masing tidak saling serang dan sepakat untuk berdamai. Kemudian tuhan A berkata pada makhluk ciptaan nya di daerah A bahwa aku adalah satu-satunya tuhan, demikian juga dengan tuhan B. Mungkin kan?

M : (bingung semua)

M : ????

M : Iya kayak iklan kecap, masing-masing merasa paling top….

M : Wah bingung pak…

M : Pertanyaan bapak nih menjebak terus…

M : ha ha ha ha.

M : Pak kasih petunjuk seperti biasanya pak, agar memudahkan kita…

G : Sebenarnya banyak pembuktian bahwa wajibul wujud itu pasti satu. Tetapi kita coba yang sederhana dulu.

G : apa beda si harun dan si yahya???

M : Namanya udah beda pak

M : tinggi nya beda pak

G : ada lagi?

M : usia nya pak…

M : rumahnya pak…

M : rangkingnya pak…

M : huuuuuuuuu

G : cukup – cukup….

G : nah sekarang apa bedanya uang 100 dan 500

M : ya besarnya, ya bahannya, ya beratnya

G : Nah sekarang perhatikan uang 500 an yang saya pegang. Berapa jumlahnya?

M : satuuuuuuuuuu

G : (sambil mengeluarkan uang 500 an yang lain). Kalau sekarang berapa jumlah uang 500 an yang bapak pegang?

M : Duaaaaaaa

G : Kenapa kok disebut dua?

M : ya karena dua jumlahnya.

G : apa yang membedakan diantara keduanya?

M : ????

M : letaknya pak beda, satu dikiri satu di kanan…

G : Kalau sekarang (sambil memindahkan 500an ke satu tangan) berapa jumlahnya ?

M : duaaaaaaa……

G : Kenapa kok dua, apa yang membedakan, atau menyebabkan disebut dua?

G : Bentuknya sama, ukurannya sama, warnanya sama, bahannya pun sama….

M : ya tapi tetap dua pak…..

M : ada dua tuh pak, dua bagian…

M : satu diatas, satu dibawah…

G : Oke-oke, ada yang tahu kira-kira kemana bapak membawa alur diskusi ini?

M : Mmmmmm… mungkin bapak mau bertanya apa beda antara 1 dan 2.

G : yap betul.. lebih tepatnya apa beda antara 1 dan bukan 1. Ada yang mau menjawab dari beberapa petunjuk tadi?

M : (hening, merenung semua…)

M : Saya pak, menurut saya disebut 1 jika benar-benar 1 benda. Dan disebut 2, jika diantara 2 benda tersebut ada yang membedakan. Entah itu tempat, warna, bahan, tinggi, rangking, dll.

M : Disebut satu jika tak ada yang lain pak. Di sebut bukan satu, jika ada yang lain lagi.

G : Semuanya benar… disebut 2 atau lebih, jika diantaranya ada yang membedakan.

G : nah sekarang balik ke topik wajibul wujud tadi. Mungkinkah ada 2 wajibul wujud?

G : Ingat juga tentang gencatan senjata tadi…

M : Mmh gimana ya…

M : ???

G : Coba hubungkan dengan ruang…

G : Ada yang bisa?

G : dan hubungkan dengan definisi satu dan bukan satu tadi, misalnya dua…

M : (kasak-kusuk sejenak)

M : Saya pak… Bagaimana kalau begini : Kalau wajibul wujud ada 2, maka pasti ada yang membedakan diantaranya.

G : Ya, terus..

M : Nah kalau ada 2, maka paling tidak ada tempat yang berbeda dari kedua wajibul wujud tadi.

M : Padahal sudah kita buktikan bahwa wajibul wujud tak butuh namanya tempat.

G : Bagus-bagus, gimana anak-anak yang lain?

M : Ya pak, masuk akal.

M : Memang si A itu pintar pak…. gak salah jadi ketua kelas…

M : Huuuuuuuuuu

G : Oke, cukup-cukup. Ada lagi yang bisa menemukan dengan cara lain?

M : Saya pak (dengan malu-malu)

G : Iya bagaimana?

M : Begini pak, kalau ada dua wajibul wujud, maka ada sesuatu yang lebih untuk menampung keduanya.

G : Maksudnya lebih

M : Misal kita ambil contoh keduanya mempunyai posisi yang berbeda. Maka harus ada tempat bagi tuhan A dan ada tempat lagi bagi tuhan B. Nah kemudian berarti harus ada sistem atau tuhan atau apapun yang mengontrol seluruh tempat tersebut agar stabil dan bisa ditempati oleh tuhan A dan tuhan B.

G : ya ya ya ya, terus.

M : berarti ada tuhan yang lebih tinggi yang memastikan tempat tuhan A dan tempat tuhan B bisa digunakan. Nah berarti tuhan A dan tuhan B bukan lagi wajibul wujud. Karena ada tuhan yang lebih tinggi yang menyediakan tempat bagi kedua tuhan tadi…

M : Kayaknya bisa tuh pak…

M : Masuk akal juga..

G : Emang kalian pinter-pinter semua… Kalian bisa tanya resep teman kalian yang pinter-pinter itu jika ingin pinter….

G : Masih adakah yang lain? Atau mau tanya….

M : Masalah satu dan bukan satu pak.. bisakah dijelaskan lagi… Karena masih bingung pak.

G : Baik jika ada 2 hal maka pasti ada yang membedakan diantara keduanya. Contoh koin tadi.

M : Bagaimana kalau keduanya tadi sama persis, tempatnya, ukurannya, kemampuannya, dimensinya, dll?

G : Misal kita sebut keduanya sebagai A dan B

G : Keduanya sama persis

G : Maka tidak ada lagi A atau B, karena A dan B adalah juga pembeda.

G : Saya menyebutnya jadi A saja atau B saja, karena semua sama, sehingga jika saya sebut sebagai A itu juga B, dan B juga A. Jadi sebetulnya tidak ada itu A atau B.

G : (sambil menggambar bulatan-bulatan kayak pelajaran matematika). Betul kan?

M : Yah pak, paham… jadi tidak mungkin disebut sebagai 2 jika diantaranya semua sama persis…. Hebat bapak… sekolah dimana sih pak?

M : ha ha ha ha ha.

G : Sekolah memang membantu, tetapi tidak selamanya ilmu itu dari sekolahan. Bahkan jika kalian terus mempelajari, maka ilmu itu akan dipengaruhi 2 hal. Pertama informasi-informasi atau stimulus, kedua kesiapan penerima ilmu atau wadah ilmu. Meskipun banyak informasi atau stimulus yang diterima tanpa didukung oleh wadah ilmu yang mencukupi akan hilang begitu saja. Nah wadah ini bisa berubah, baik bertambah maupun berkurang. Ada 2 cara, yaitu menambah stimulus dan memperbesar wadah ilmu. Tetapi mungkin ini sudah diluar bahasan kita saat ini.

M : Yah pak…

M : Nanti tambah pusing pak. Mungkin dibahas kali laen aja ya…

M : Yup, tarima kasih diskusinya pak…

G : Oke, sama-sama. Kayaknya sudah waktu istirahat ya…

(KRIIIIIIIIIIIIIIIIING) (murid pada berhamburan dan beristirahat…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: