Perbuatan Sempurna

Chapter 7 :

Perbuatan Sempurna

(di suatu perjalanan pulang sekolah)

M : Jadi wajibul wujud pastilah harus yang sempurna?

M : Ya ya ya ahsant, karena kalau tidak sempurna tak mungkin jadi wajibul wujud

M : Ahsant. Jadi harus ada yang memenuhi ketidak sempurnaannya dan kekurangannya. Sementara kekurangannya itu bisa dikatakan sebagai sebab yang mendahuluinya. Padahal namanya wajibul wujud adalah sebab awal. Jadi haruslah yang sempurna….

M : Begitu ya….. Alhamdulillah, kalian emang top banget deh…

M : Ah biasa aja…

M : Kalau dia sempurna, maka dia tidak akan melakukan perbuatan yang sia-sia

M : Ehm gak tahu…

M : Tapi kok kita sering lihat di alam ini banyak perbuatan yang sia-sia.

M : Contohnya?

M : Ya gampang aja, misalnya bencana alam, banjir, gunung meletus, perampokan…

M : Bukankah itu perbuatan yang merugikan? Apakah tidak mungkin hal itu dicegah atau ditiadakan… Katanya dia itu sempurna, tentunya tidak akan membiarkan itu terjadi, melihat makhluknya menangis, menahan derita, dirampok, dst.

M : Stop-stop, jangan buru-buru… Kita bicarain satu-satu aja, biar tidak bingung..

M : Iya nih… Nt jadi moderatornya ya?

M : Oke-oke… Kita duduk di taman itu ya..

M : (masing-masing mengambil posisi duduk yang enak)

M : Nah kita mulai satu-satu, ane sebagai moderator. Kalau mungkin tidak ada kesimpulan dan kata sepakat kali ini, kita bisa sambung atau tanyakan pada orang lain. Gimana?

M : Sip…

M : Nah tadi ada pernyataan atau premis tentang kalau dia sempurna maka dia tidak akan melakukan perbuatan sia-sia. Kita uji dulu kebenaran premis ini, oke…

M : Ada yang mau kasih pendapat?

M : Iya itu pasti, tak perlu diragukan lagi…

M : Maksudnya?

M : Kalau kita melakukan perbuatan bodoh atau sia-sia itu sebabnya apa coba?

M : Mungkin tidak tahu bahwa itu perbuatan bodoh

M : Atau dia tahu itu perbuatan bodoh, tetapi tetap melakukannya.

M : Alasannya?

M : Yah mungkin iseng aja… untuk main-main…

M : ha ha ha

M : Atau karena dia sengaja ingin melakukan perbuatan bodoh.

M : Bisa juga karena dia senang melakukan perbuatan bodoh…

M : Ada kemungkinan lain gak? Kenapa kok melakukan perbuatan bodoh?

M : Mmmm apa ya?….

M : Oke, ane catet ya. Jadi sebab melakukan perbuatan bodoh adalah : 1 karena dia tidak tahu itu perbuatan bodoh, 2 dia tahu itu perbuatan bodoh tapi dia melakukannya untuk main-main/iseng, dan karena dia sengaja ingin melakukannya.

M : Bung mod, perla nt catet juga dari diskusi yang telah lalu bahwa bahwa wajibul wujud adalah zat yang sempurna.

M : Oke-oke, jadi kita punya 2 premis, dan akan kita uji diantara keduanya oke…

M : Nah kita akan uji yang ini dulu mungkinkah dia tidak tahu bahwa dia sedang melakukan perbuatan bodoh?

M : Ya mungkin aja. Kalau dia tahu itu perbuatan bodoh kenapa dilakukan? Pasti karena ketidak tahuan dia melakukan perbuatan bodoh.

M : Jadi dia tidak tahu sedang melakukan perbuatan bodoh.

M : Mungkinkah dia tidak tahu?

M : Kalau kita hubungkan dengan bahwa wajibul wujud adalah zat yang sempurna, maka itu tidak mungkin.

M : Jadi tidak mungkin dia tidak tahu.

M : Yap betul…

M : Atau dengan kata lain dia tidak mungkin melakukan perbuatan bodoh karena ketidak tahuannya, karena gak mungkin dia tidak tahu apa yang dilakukannya.

M : ???

M : Ya seharusnya seperti itu

M : Sepakat tidaaak!!!!

M : Sepakaaaat

M : Asalkan premis bahwa Tuhan itu sempurna adalah betul. Maka tidak mungkin dia tidak tahu….

M : Yah-yah yah…

M : Nah premis mengenai Tuhan atau wajibul wujud itu sempurna sudah kita bahas sebelumnya… Dan saya pikir sudah ada kata sepakat. Kalau misalnya nt masih ada ganjelan kita bahas sendiri aja dilain waktu, ok..

M : Baik pak mod…

M : Kemudian dia tahu itu perbuatan bodoh, tetapi dia ingin melakukannya…

M : Wah itu malah aneh….

M : Maksudnya?

M : Ya itu, sudah tahu perbuatan bodoh kok dilakukan…

M : He he he he…

M : Emangnya dia terpaksa melakukannya? Kalau dia terpaksa, siapa yang memaksa dia? Maka yang memaksalah yang berhak jadi wajibul wujud… Kalau wajibul wujud tak mungkin melakukan dengan terpaksa….

M : Betul – betul (sambil manggut-manggut)

M : Kalau dia melakukannya karena iseng, itu juga sangat aneh… Iseng berarti sama juga dengan main-main atau tidak memiliki tujuan, sepakat tidak???

M : Eh bisa juga bertujuan untuk menyenangkan hati kan?

M : Itu berarti bukan iseng, tetapi memiliki tujuan… meski hanya sebatas menyenangkan pelakunya.

M : Balik ke topik, jadi mungkinkah dia melakukan perbuatan bodoh karena iseng?

M : TIDAAAAAK

M : Tolong diperjelas…

M : TIIIIIDAAAAAAAAAAAAKKKKKKKK

M : Bukan itu maksud saya, diperjelas hubungannya gitu…

M : Yah tidak mungkinlah, masak yang maha sempurna melakukan perbuatan hanya untuk main-main dan tidak punya tujuan?

M : Bukankah itu bertentangan dengan sifat kemaha sempurnaannya?

M : Nt aja pun melakukan sesuatu pasti ada tujuannya kan? Entah itu bersifat baik maupun buruk. Kecuali nt sedang tidak sadar alias pingsan atau gak waras, mungkin nt melakukan sesuatu tanpa tujuan….

M : Ha ha ha ha ha…

M : Oke. Jadi sepakat nih tidak mungkin zat yang maha sempurna melakukan perbuatan tanpa tujuan alias iseng?

M : Siiiip….

M : Oke jadi kita punya kesimpulan ini nih, tidak mungkin wajibul wujud (atau yang maha sempurna) melakukan perbuatan bodoh atau sia-sia dengan sebab apapun.

M : Iya….

(hening beberapa saat)

M : Trus gimana dengan fenomena bencana alam, orang cacat, perang, kemiskinan, dll. Apakah itu bukan suatu perbuatan bodoh ? Atau kesia-siaan? Dan buktinya itu terjadi saat ini…

M : Gimana nih pak mod?

M : Ada yang punya pendapat?

M : Kayaknya itu panjang pak mod…

M : Banyak aspek yang dibahas. Jadi kayaknya tak bisa tuntas saat ini..

M : Maksudnya gimana?

M : Pernyataan itu tadi tuh banyak yang perlu dibuktiin kebenarannya. Misalnya gini: Betulkah bencana alam, perang atau apapun itu perbuatan wajibul wujud? Kemudian apakah benar bencana alam atau yang lain itu adalah perbuatan yang sia-sia? Ataukah hal tersebut ada tujuannya? Atau bisa gini apakah benar anggapan kita bahwa bencana alam itu perbuatan bodoh? Ataukah cukupkah pengetahuan kita untuk menjustifikasi bahwa bencana alam, dll merupakan perbuatan bodoh???

M : wah-wah kayaknya panjang juga nih.

M : Iya keburu laper nih….

M : Oke setidaknya kita punya satu kesimpulan, walaupun masih menyisakan beberapa pertanyaan. Yaitu tidak mungkin wajibul wujud melakukan perbuatan bodoh.

M : Ya ya ya, sekarang pulang yuuk…

M : Yaaaaaaaa

(beberapa hari kemudian moderator menghubungi guru biasanya, untuk menyampaikan hasil diskusi dan beberapa kronologinya, agar tidak salah arah. Kemudian menyampaikan kembali hasil pertemuannya dengan semua tim diskusinya bahwa kesimpulannya tidak salah. Mengenai pertanyaan lanjutan, bisa dibahas tersendiri…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: