Manusia Bebas – Tidak Bebas

Chapter 8 :

Manusia Bebas – Tidak Bebas

G : Saya pikir masalah ini penting untuk dibahas, meski kayaknya tidak terlalu bisa didiskusikan seperti biasanya.

G : Yaitu tentang masalah kita, masalah manusia. Yaitu apakah manusia itu bebas atau tidak bebas.

G : Ada yang mau kasih pendapat, apakah kita ini bebas (freewill) atau terikat/terpaksa?

M : Saya pak, menurut saya kita ini bebas melakukan apa saja. Buktinya saya, saya mau makan, mau minum atau mau tidur atau sekarang saya berbicara bisa kan, dan tidak terpaksa…

M : Iya betul… Jadi manusia itu menurut saya juga bebas. Tidak ada yang namanya paksaan dalam melakukan sesuatu.

G : Ada yang punya pendapat lain yang tidak setuju dengan pendapat tadi?

G : Kayaknya semua mempunyai pendapat bahwa manusia itu bebas berkehendak dalam melakukan sesuatu. Sekarang saya tanya apakah kehendak manusia itu terbatas atau tak terbatas?

M : Dalam tataran ide apa aktual?

G : Wah kayaknya ada filosof disini…

M : Ha ha ha ha

G : Oke biar tidak rumit kita ke tataran aktualisasi aja. Jadi pertanyaannya saya ganti. Apakah ada batasan manusia dalam melakukan sesuatu?

M : Maksudnya pak?

G : Apakah manusia bebas melakukan apa saja tanpa ada batasan?

M : Mmm saya pikir manusia tidak sepenuhnya bebas melakukan perbuatannya, pasti ada keterbatasan…

G : Ada yang mau kasih contoh apa saja batasannya?

M : Kematian, umur.

M : Waktu

M : Mungkin juga ruang…

M : Manusia dibatasi oleh fisiknya. Dia tidak bisa melakukan diluar batas kemampuan fisiknya.

G : Nah kayaknya disini semua sepakat bahwa manusia itu tidak bebas mutlak. Dan kayaknya batasannya hanya bersifat batasan fisik saja. Tetapi apa betul begitu?

M : Kayaknya begitu pak

G : Jadi manusia bebas melakukan apa saja dalam batasan fisiknya?

M : Ya….

M : ???

G : Apakah ada batasan lain yang membatasi kehendak manusia? Selain batasan fisiknya?

M : ???

M : Tidak tahu pak, setahu saya ya hanya batasan itu saja.

M : Dikasih petunjuk pak?

G : Apakah manusia bisa memilih dimana dia dilahirkan?

M : Tidaaak….

G : Apakah manusia bisa memilih siapa orang tuanya?

M : Tidaaaak….

G : Apakah manusia bisa memilih dengan siapa saja dia bertemu hari itu?

M : Tidaak

M : Bisa, kalau dia buat janjian, bisa…

G : Nah jawabannya ada dua, dia bisa mengatur/memilih bertemu tetapi tidak 100%. Dia tidak bisa mengatur semua orang dijalan.

G : Apakah dia bisa mengatur keinginan orang lain?

M : Kayaknya….

G : Nah manusia yang lain hanya bisa mengajak dan menghimbau, atau mungkin memaksa, tetapi tidak mungkin dia memaksa kehendak orang lain menuruti kehendaknya. Orang lain itulah yang memutuskan apakah dia mau mengikuti ajakan atau himbauan tadi dengan sukarela maupun terpaksa.

G : Bahkan setan pun tidak dapat memaksa manusia…. (untuk masalah ini silahkan dipelajari lebih dalam bagi yang berminat).

M : Begitu ya….

M : Pak apakah ada batasan lagi selain yang tadi pak?

G : Ada yang punya pendapat?

M : (hening)

G : Kecenderungan manusia bisa menjadi alasan dia melakukan sesuatu kan?

M : Ya betuull…

M : Terus?

G : Nah, Siapa yang meletakkan kecenderungan pada manusia?

M : ya betul-betul…

M : Maksudnya?

G : Kecenderungan manusia, adalah seperti ’batasan’ meski sangat halus terhadap tindakan dan kebebasan manusia.

G : Coba disebutkan kecenderungan-kecenderungan manusia?

M : Makan

M : Minum

M : Tidur

M : Beristri

G : Kok fisik terus, coba sebutkan kecenderungan non fisik?

M : Mmmm, kecenderungan dan menyukai pada kebaikan

G : betul-betul, ada lagi?

M : Berterima kasih…

G : yah, ada lagi?

M : suka keindahan…

G : ya. ya, sebetulnya banyak kecenderungan manusia. Antara lain kecenderungan untuk menyembah atau beribadah, keinginan untuk pintar, bahagia, hidup abadi, dll. Dll.

G : Ada yang mau menarik kesimpulan arah pembicaraan kita?

M : Saya pak… Mungkin gini pak, bahwa manusia itu bebas melakukan apa saja, tetapi tetap terbatasi dengan beberapa hal, kemampuan fisik, kecenderungan, dll.

G : Yah betul. Di sisi fisik sendiri, manusia tidak sepenuhnya bisa mengontrol. Ada proses dan sistem lain yang mengontrol di luar kesadaran manusia. Misalnya manusia tidak bisa mengontrol jantungnya, denyut nadinya, mengontrol syarafnya, pencernaanya, dan seterusnya. Manusia pun tidak bisa juga mengontrol banyak yang diluar dirinya. Keteraturan alam semesta, hukum-hukum alam, jagat raya, dan banyak lagi. Ada juga bencana-bencana alam, kejadian yang menimpa seseorang, mimpi, dsb. Jadi banyak hal yang membatasi kehendak manusia.

M : Yah betul pak.

G : Nanti kalian kalau sudah mendalami masalah kehendak ini, kalian akan lebih mengetahui banyaknya batasan dan desain yang dipersiapkan oleh Wajibul wujud untuk kebaikan manusia….

G : Nah kalau di istilah arab, maka kondisi ini adalah amran bainal amrain. Jalan di tengah-tengah, antara terpaksa (jabr) dan bebas mutlak (tafwidh). Nah di Islam sendiri ada beberapa pemikiran mengenai aliran jabr dan tafwidh ini, kalian bisa merujuk di perpustakaan. Mudah-mudahan dengan pembicaraan kita saat ini kalian akan memahami pemikiran atau paham yang mana sebetulnya yang betul.

G : Ada pertanyaan?

M : Mungkin dikasih contoh yang sederhana pak?

G : Mungkin begini (sambil memikir). Kalian pernah menanam tumbuhan?

M : Tidak pak… (walaupun ada yang pernah)

G : Yah gini aja deh.. Tumbuhan akan tumbuh bila ada bijih yang kita tanam, kita rawat, kita pupuk, kita siangi, dst…

G : Nah kemampuan kita untuk menjaga menanam, menyiram, menyiangi, dll adalah seperti kehendak kita.

G : Sedangkan adanya tanah, adanya matahari, penyediaan air, oksigen, gravitasi bumi, siang malam, hujan, dan seluruh sistem lainnya adalah diluar kehendak kita. Atau sebagian bilang takdir.

G : Seperti itulah kita, punya kemampuan memilih, tetapi dibanding ketidak mampuan memilih kita ya banyak sekali.

M : ya ya ya, mafhum pak.

G : Tambahan lagi dari saya. Karena kemampuan memilih itulah manusia berhak di beri imbalan. Ada surga dan neraka. Ada syariat, ada nabi, dll. Adalah disebabkan kemampuan memilih manusia.

M : Begitu ya?

G : Misalnya begini, apakah adil seseorang yang ditakdirkan jadi penjahat dimasukkan neraka? Tentunya si penjahat tersebut akan protes ke Tuhan, Kenapa engkau memasukkan aku ke neraka? Padahal engkau yang menentukan atau memaksa aku jadi penjahat? Mestinya masuk surga donk, karena sesuai dengan kehendak Mu?

M : Ya betul pak

M : Setuju…

G : Kalau ditelaah lagi, persoalan ini agak panjang dan rumit, tetapi mungkin hari ini cukup disini saja, kalau tidak ada pertanyaan..

M : Baik pak…

One Response to “Manusia Bebas – Tidak Bebas”

  1. arul_scorpi Says:

    hmmm… apa yah!!! manusia bebas dan trbatas aja ah sebagai kesimpulannya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: