Agama dan Nabi adalah Keharusan

Chapter 10

Agama dan Nabi adalah keharusan

G : Nah dari diskusi sebelumnya diperoleh kesimpulan bahwa manusia memiliki ikhtiar atau kemampuan memilih, walaupun terbatas.

G : Dan Wajibul wujud pun sudah dibuktikan adalah zat yang sempurna tidak akan melakukan perbuatan yang sia-sia.

G : Nah sekarang akan kita bahas mengenai ikhtiar manusia itu sendiri dihubungkan dengan kesempurnaan wajibul wujud.

G : Sekarang bapak yang tanya, apakah manusia atau kita mungkin berbuat buruk?

M : Mungkin pak…

G : Kenapa?

M : ya memang manusia diberi kemampuan untuk memilih..

M : Iya betul. Dia bebas melakukan apa saja.

M : Dan karena kemampuan itulah manusia layak diberi imbalan maupun hukuman.

G : yah kalian masih ingat, bagus… bagus…

G : Bagaimana manusia tahu bahwa pilihannya tepat?

M : Maksudnya pak..

G : Hal yang dilakukannya tidak menimbulkan kerugian dan keburukan…

M : Yah bisa dari pengalaman pak.

G : Maksudnya?

M : Kalau dia tahu bahwa di situ ada lobang yang menyebabkan dia jatuh, tentu dia tidak akan melewati lobang itu lagi…

G : yah, boleh juga…

G : Ada yang mau kasih pendapat lain?

M : Bisa dari orang tua pak…

G : Yah itu juga bagus.

M : Orang tua biasanya memberi nasehat kepada anak-anaknya apa saja yang baik dan tidak merugikan…

G : Oke…. Sekarang dari mana orang tua tahu hal tersebut?

M : mmmm

M : Yah dari pengalaman dan dari para orang tuanya juga…

G : yah itu juga boleh…

G : Satu pertanyaan, kenapa kok manusia harus melakukan kebaikan dan menghindari keburukan?

M : Kenapa ya?

M : Ya dari sono nya pak…

M : Huu u u u u

G : Sudah-sudah, teman kalian tidak sepenuhnya salah.. ada yang mau kasih pendapat lain?

M : (bingung)

M : Mungkin begini pak, manusia cenderung melakukan kebaikan karena itu bermanfaat bagi dirinya, dan tidak membahayakan jiwanya.

G : Iyah itu juga boleh…

G : Banyak sih memang teori tentang kebaikan dan keburukan, tetapi kita tidak akan bicarakan itu, biar tidak terlalu mbulet.

G : Nah kita lanjutkan lagi. Sejauh mana batas pengetahuan manusia tentang kebaikan dan keburukan?

M : Maksudnya pak?

G : Apakah dari pengalaman dan pengetahuan manusia mampu mengetahui segala kebaikan dan keburukan?

M : Bingung pak…

M : Kagak ngeh…

G : Begini, begini. Tadi kan kalian menyebutkan bahwa manusia mengetahui hal yang baik atau bermanfaat bagi dirinya dari pengetahuan, dari pengalaman, baik diri sendiri maupun orang lain (misalnya dari orang tua). Nah pertanyaannya apakah dari pengetahuan dan pengalaman itu manusia mampu membedakan antara baik dan buruk?

M : ????

M : Wah kayaknya tambah rumit pak…

M : Iyah, pembicaraannya jadi sangat panjang dan sangat lebar.

G : Betul, betul. Habis pertanyaan tadi pun bisa dilanjutkan pertanyaan, apakah manusia bisa membedakan baik dan buruk? Apakah baik dan buruk itu mutlak atau relatif? Kenapa kok harus mengikuti kebaikan? Dll dll.

G : Nah supaya tidak melebar, kita batasi aja.

G : Wajibul wujud kan tidak melakukan hal sia sia?

M : Betul…

G : Manusia termasuk ciptaan wajibul wujud kan?

M : Betul…

G : Jadi manusia tidak diciptakan dengan sia-sia…

M : Ya betul…

G : Ada yang bisa meghubungkan?

M : ????

M : Satu lagi pak, manusia mempunyai ikhtiar…

G : Yah betul… Ada yang sudah tahu cara menghubungkan?

M : (saling kasak-kusuk berdiskusi sendiri)

M : Saya pak…

G : Yah, silahkan…

M : Begini pak. Karena manusia diciptakan memiliki ikhtiar, dan karena wajibul wujud tidak melakukan perbuatan sia-sia, maka wajibul wujud diharuskan memberitahukan kepada manusia tujuannya agar manusia mengikuti arahan wajibul wujud dengan pilihan dan ikhtiarnya…

G : bagus-bagus, jadi harus ada arahan dari wajibul wujud. Ada yang menyimpulkan dengan cara lain?

M : (terdiam lagi)

M : Saya pak. Manusia diciptakan bukan dengan kesia-siaan, pasti ada tujuannya (sesuai dengan sifat bahwa wajibul wujud tidak akan melakukan perbuatan sia-sia). Nah tentunya wajibul wujud harus mengarahkan ciptaannya agar ikhtiarnya digunakan ke arah yang benar sesuai dengan arah ciptaannya…

G : yah, yah begitu juga bisa. Ada yang punya pendapat lagi?

M : (terdiam lagi)

M : Mungkin begini pak. Wajibul wujud pasti tidak akan membiarkan ciptaannya menuju kerusakan, meski ciptaannya memiliki ikhtiar. Jadi harus ada cara supaya ciptaannya tidak terus menuju kerusakan, dan itu pastinya bukan cara paksaan, karena bertentangan dengan ikhtiar itu sendiri.

M : ya betul pak. Dia memang pinter…

M : ha ha ha ha

G : Nah kayaknya sudah pada sepakat nih, harus ada arahan dari wajibul wujud kepada ciptaannya yang memiliki ikhtiar (manusia). Dan arahannya adalah bukan dalam bentuk paksaan.

G : Nah sekarang bagaimana bentuk arahan itu diberikan?

M : Nabi….

M : Kitab-kitab langit…

M : Agama…

M : Arahannya itu pasti terserah yang memberi arahan.

G : Semuanya betul… Sebetulnya kalau mau dibahas ini juga agak panjang, tetapi sayang waktunya sempit… Untuk singkatnya bapak uraikan sedikit saja, nanti kalian bisa baca referensi yang terkait. Nah bentuk arahan itu harus sesuatu yang pasti, jelas dan pasti betul serta bebas dari kekeliruan. Karena kalau bentuk arahan itu saja masih diperselisihkan, maka bukan lagi disebut sebagai arahan, tetapi sumber perselisihan kan?

M : Yah betul, betul. Betul.

M : sepakat…

G : Dan juga hal tersebut menunjukkan sifat wajibul wujud yang tidak mungkin melakukan perbuatan sia-sia. Kalau arahannya tidak jelas, malah menimbulkan pertentangan, bukankah itu adalah hal yang sia-sia?

M : Bapak betul lagi…

G : Nah karena konteks kita berbicara mengenai manusia, maka semua arahannya harus dipahami manusia. Jadi harus menggunakan sesuatu yang dimengerti manusia. Menggunakan bahasa manusia.

G : (mengambil nafas sejenak, sambil minum air putih). Dan semua arahan itu pastinya harus bisa dilakukan oleh manusia. (Ingat bahwa wajibul wujud tidak akan melakukan perbuatan sia-sia).

G : Jadi sesuatu itu apakah? Ya manusia itu sendiri dan kitab-kitab langit.

M : Apa kitab saja tidak cukup?

M : Saya pikir tidak cukup, karena dengan buku yang sama, seseorang bisa mengartikan berbeda, seperti yang sering kita lihat…

G : Betul-betul…. kitab saja tidak cukup.

(kriiiiing kriiing kriiing – bel istirahat)

G : Nah karena sudah istirahat, bapak simpulkan saja, bahwa wajibul wujud pasti memberikan arahan pada makhluknya yang memiliki ikhtiar (manusia) agar sesuai dengan tujuan dan tidak sia-sia. Bentuk arahannya harus ada manusia pilihan Tuhan, serta mungkin kitab langit. Nah siapakah manusia pilihan tuhan, kitab langit, dan agama yang betul, bisa kita bahas kemudian, sambil kalian mencari referensi untuk diskusi selanjutnya.

G : Sekarang kalian boleh istirahat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: