Nabi Harus Maksum Sebelum dan Sesudah

Chapter 11

Nabi harus maksum sebelum dan sesudah

(sehabis jam istirahat selesai)

M : Pak mau tanya pak!

G : Yah silahkan!

M : Jadi wajibul wujud pasti memberikan suatu arahan pada makhluknya melalui utusan, apakah utusan tersebut harus dalam bentuk manusia?

G : Pertanyaan bagus… Silahkan yang lain menanggapi

M : (agak hening, ada yang sambil buka-buka referensi, ada yang garuk-garuk kepala)

M : Yang penting syaratnya, arahan tersebut kan dimengerti manusia, jadi menurut saya arahan tersebut tidak harus dalam bentuk manusia, bisa kitab, bisa bisikan, dst.

M : Kalau kitab saja menurut saya tidak bisa dijadikan acuan!

M : Kok begitu???

M : Iya, kitab atau buku atau apapun bisa diartikan dan ditafsirkan macem-macem, sesuai dengan kemampuan yang menafsirkan.

M : Dan juga mungkin untuk kepentingan penafsir itu sendiri.

M : Bagaimana kalau bisikan? Atau mungkin nurani atau kata hati?

M : Memang nurani setiap orang sama?

M : Iya mestinya sama…

M : Menurut saya tidak. Sama saja, hati nurani juga dipengaruhi oleh perasaan dan kondisi manusia itu sendiri.

M : Itu karena dia tidak mengikuti kata hati, jadinya berbeda. Tetapi kata hati itu sendiri itu sama pada setiap orang.

M : Ya tidak bisa begitu, bagaimana memastikan bahwa itu adalah berasal dari kata hati, bukan nafsu atau ego atau apapun!!!!

M : Ya harus membersihkan diri dulu, agar tidak mudah digoda ego.

M : Terus cara membersihkannya bagaimana???

M : Ya latihan-latihan menahan hati…

M : Ilmu dari mana latihan menahan hati??? Apakah dari hati nurani lagi???

M : Ya ya ya saya setuju, pendapat tentang hati nurani kurang pas, karena absurd. Harus mengolah hati dulu agar tahu itu kata hati nurani, sementara metode pengolahan hati (kalau tidak menggunakan petunjuk dari luar hati nurani) juga harus mengikuti kata hati. Jadi mbulet, mengikuti kata hati yang belum bersih (yang belum tentu merupakan kata hati sesungguhnya) untuk memperoleh kata hati sesungguhnya.

M : ya sepakat… kalau hanya mengandalkan hati nurani, rawan dari ketidak bersihan..

M : terus pakai apa donk…

M : Ya satu-satunya hal yang menjamin petunjuk dari wajibul wujud benar ya haruslah berbentuk seorang manusia yang diutus Tuhan.

M : Kalau malaikat bagaimana?

M : Ini logikanya juga aneh.

M : Maksudnya…

M : Dari mana dia tahu bahwa utusan tersebut berbentuk malaikat, atau bagaimana dia mengerti apa itu konsep malaikat?

M : Ya dari malaikat itu tadi….

M : Terus apakah manusia sekelilingnya bisa percaya??

M : yah bisa saja, dia kan bisa menunjukkan hal-hal yang supra natural untuk membuktikannya…

M : Dari mana dia tahu bahwa malaikat tadi tidak bohong dengan klaimnya?

M : Ya pokoknya harus percaya, kalau dia melakukan keajaiban, pasti hebat, dan harus dipercaya…

M : Bagaimana kalau malaikat tadi tukang kibul, dengan kekuatannya dia menunjukkan hal-hal yang aneh, kemudian mengibuli manusia untuk mempercayai dirinya???

M : Iya kayak tukang sulap kan bisa mengelabui manusia lain, tapi apakah hal tersebut mengharuskan seseorang mempercayai kejujuran dan kebenaran klaimnya?.

M : Jadi bagaimana?

M : Satu-satunya jalan, utusan tersebut harus seorang manusia.

M : Mmmm begitu ya, apa tak ada cara lain?

M : Menurut saya sudah tidak ada. Dan seorang nabi atau utusan atau apapun namanya harusnya bersih dan jujur.

M : Yah itu pasti….

G : Baik sebelum mengaku sebagai nabi maupun sesudah diangkat nabi?

M : Ya…

M : Tidak harus begitu, menurut saya pada saat sudah diangkat sebagai nabi saja dia harus bersih atau maksum/bebas keslahan. Karena pada saat itulah dia membicarakan tentang petunjuk dari wajibul wujud.

M : Kalau itu sih pasti, harus begitu. Kalau dia ngibul tentunya petunjuk Tuhan disalah-salahin.

M : Tapi menurut saya sebelum ditunjuk dan diangkat pun dia harus bersih atau maksum

M : Maksudnya?

M : Iyah, dia harus dikenal kejujurannya dan kebaikan lainnya. Sehingga apapun yang diucapkannya nanti dipercayai. Jadi kalau pada saat dia diangkat jadi nabi, dan mengaku menjadi nabi, maka pengakuannya pasti dibenarkan orang lain karena tingkat kejujurannya.

M : Begitu yah, apakah dengan mukjizat atau kejadian-kejadian ajaib tidak cukup bahwa dia adalah utusan wajibul wujud?

M : Menurut saya tidak cukup. Ya logikanya seperti tukang sulap tadi, kalau dia memang pandai dan pengetahuannya diatas rata-rata orang saat itu, dia bisa mengibuli orang lain dengan sulapnya, kemudian mengaku sebagai nabi.

M : Tetapi kalau orang sudah dikenal kejujurannya dan mengaku sebagai utusan Tuhan, maka orang lain pasti mempercayainya atau setidaknya tidak terlalu meragukannya.

M : Masuk akal juga.

M : Yah, jadi maksum itu syaratnya yah, baik sebelum maupun sesudah diangkat sebagai nabi.

M : Yah betul

M : Apakah itu mungkin?

M : Yah harus, sesuai dengan kebijakan wajibul wujud dengan segala perbuatannya yang telah kita bahas sebelumnya.

G : Yah itu betul semua.

M : (hening beberapa saat)

M : Pak bagaimana tentang adanya cerita atau riwayat tentang perbuatan nabi yang tidak seharusnya, misalnya bersenang-senang, bermuka masam, dll.

G : Wah banyak yang baca buku kayaknya….

G : Walaupun kita belum sampai pada pembuktian berita atau riwayat. Tetapi satu hal, bahwa itu bertentangan dengan konsep utusan yang menjadi contoh, memberi petunjuk, dll. Sedangkan mengenai riwayat itu banyak ada kelemahan dan sanggahan, serta motif dikeluarkannya riwayat seperti itu, yang kalian nanti dapat mencarinya di literatur.

M : Pak tanya pak?

G : Yah…

M : Apakah bentuk manusia yang menjadi utusan itu harus seorang nabi? Bagaimana kalau disebut sebagai anak tuhan?

G : Wah menyinggung agama lain ya?

M : Bukan begitu pak, cuman tanya aja.

G : (sambil melihat jam), kayaknya saya jawab aja deh, walaupun mungkin diantara rekan kalian ada yang tahu jawabannya. Dan mestinya ini juga bagus untuk didiskusikan.

G : Apapun namanya utusan tuhan itu wajib ada. Dan sedangkan wajibul wujud atau tuhan itu memiliki sifat-sifat yang sudah kita bahas sebelumnya. Jadi apapun namanya utusan itu, esensinya adalah dia bukan sebagai wajibul wujud tambahan, karena ketidak mungkinannya, seperti utusan itu ada kan diadakan oleh wajibul wujud, jadi dia bukan wajibul wujud. Kemudian tak mungkin adanya dualisme wajibul wujud (yang juga sudah kita bahas), dll.

G : Jadi wajibul wujud tetap satu, sedangkan utusan (apapun namanya) pasti bukan wajibul wujud.

G : Sebenarnya banyak istilah-istilah yang menyebutkan nama-nama utusan, tetapi esensinya dia bukan sebagai wajibul wujud, tetap sebagai manusia biasa (seperti yang kita bahas diatas tentang syarat seorang utusan). Misalnya ada : kekasih Allah (khalilullah – apakah Tuhan butuh kekasih?), Ada Kalamullah, ada Waliyullah (wali atau pelindung Allah), Ada ruhullah, dst… Tetapi semua nama tersebut adalah nama majazi, bukan esensi. Jadi tetap sebagai manusia, bukan berubah sebagai wajibul wujud.

M : ?????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: