Wajibul Wujud Itu Siapa ?

Chapter 12

Wajibul Wujud Itu Siapa?

M : Pak dari dulu kita bicara wajibul wujud, cuman saya masih bingung, sebenarnya siapa wajibul wujud itu?

M : Iyah pak, apakah sudah saatnya kita bahas ini?

G : Mmm. Boleh-boleh…. Ada yang tahu wajibul wujud itu siapa? Atau bagaimana cara kita mengetahui wajibul wujud?

M : Sebagian orang mengatakan itu sebagai Budha, Siva, dll

M : Ada yang bilang itu Yesus

M : Ya setiap agama mengatakan yang berbeda tentang siapa itu wajibul wujud.

G : Sebagai bahan renungan kalian kedepan, bahwa tidak semua agama yang ada di dunia ini memandang tuhan mereka sesuai dengan konsep wajibul wujud yang kita bicarakan. Dari sini kalian bisa menarik garis merah sebenarnya siapa wajibul wujud itu..

G : Tetapi untuk mempermudah kita mengenalinya kita akan diskusikan dengan metode yang lain. Ada yang punya pendapat bagaimana kita mengenali wajibul wujud?

M : Sebentar pak, jadi konsep wajibul wujud tidak semua agama mengakuinya?

G : Yah betul, ada beberapa yang mirip, tetapi ada juga yang tidak mengenal dan berbeda sama sekali.

M : Apakah itu tidak berarti bapak mengarahkan diskusi kita agar sesuai dengan ajaran Islam? Padahal seperti kita sepakati sebelumnya bahwa dalam diskusi kita coba keluar dari segala doktrin agama yang telah kita dengar selama ini.

G : Tidak juga benar jika dikatakan seperti itu. Apakah bapak selama diskusi kita sebelumnya pernah mengangkat dalil-dalil yang teksbook? Dan semua yang kita sepakati dan angkat dalam diskusi adalah dengan dalil aqli. Tidak kah begitu?

M : Ya pak

M : Betul pak.

G : Jadi yang kita jadikan premis adalah logika universal. Tapi pada saatnya nanti jika kita sudah sampai pada pembuktian kebenaran suatu agama, serta kebenaran mutlak dari agama tersebut, maka mau tak mau kita harus tunduk pada aturan-aturan yang ditetapkan oleh agama tersebut. Dan ini juga akan kita buktikan pada saatnya.

G : Baiklah kita kembali kepada bahasan sebelumnya. Nah ada yang punya pendapat, bagaimana kita mengenal siapa itu wajibul wujud?

M : (terdiam beberapa saat)

M : Harus lewat perantara pak… tidak bisa langsung mengenali…

M : Maksudnya?

M : Iyah, seperti yang telah kita bicarakan sebelumnya, bahwa pengetahuan dan perasaan manusia itu relatif, kadang bisa salah dan kadang benar.

M : Terus….

M : Nah kalau mengandalkan pengetahuan dan perasaan manusia, maka siapa wajibul wujud pun bisa salah dan bisa juga benar. Jadi pengetahuan dan perasaan manusia sangat susah diandalkan untuk mengetahui siapa itu wajibul wujud.

M : yah paham…

G : Tetapi jangan salah juga, bahwa akal dan perasaan manusia bisa dipakai sebagai pendahuluan untuk mengenali wajibul wujud. Nah yang kita bahas sebelumnya juga pakai akal kan? Dengan bantuan akal kita telah mengupas ciri-ciri dari wajibul wujud.

M : Betul pak

M : Yah pak, ingat…

M : Jadi apa perantaranya untuk mengenali wajibul wujud?

M : Yah utusan tadi tho? Tidak ada metode lain kan?

M : Iyah juga sih… Metode yang lain masih bisa ada kemungkinan salah.

M : (terdiam lagi)

M : Lha terus si perantara tadi bagaimana mengenal wajibul wujud? Apakah ada perantara-perantara lain lagi? Terus perantara lain ada perantara lagi, dst. Mbulet donk jadinya….

M : Ha ha ha ha ha

M : Yah tidak begitu donk… Jangan bikin rumit ah…

M : Lah terus bagaimana?

M : ente lupa ya? sebenarnya dalil ini persis seperti dalil wajibul wujud tentang tasalsul.

M : Mmmmmmm

M : Iyah, kalau semua perantara membutuhkan perantara lagi, maka tidak akan ada yang namanya perantara yang diutus. Jadi harus ada suatu kondisi dimana si perantara tidak membutuhkan perantara.

M : Betul-betul betul… Ahsantum….

M : Iyah kalau semua sebab membutuhkan sebab pendahuluan, maka tidak akan ada alam semesta ini, harus ada sebab yang tak bersebab lagi, dan itu wajibul wujud seperti yang telah kita bahas sebelumnya.

M : Betul-betul betul betul lagi…. lagi-lagi betul…

M : Nah berarti kita harus mengenali perantara yang betul dahulu untuk mengetahui siapa sebetulnya wajibul wujud…

M : Yah sepertinya begitu? Bagaimana pak?

G : Iyah…..

M : Terus siapa perantara yang betul?

G : Iya, ada yang masih ingat diskusi kemarin.

M : Saya pak, jadi perantara tersebut harus seorang manusia.

G : Betul-betul…

M : Dan dia harus dikenal luas oleh masyarakat akan kejujuran dan ke sempurna annya sebagai manusia alias maksum baik sebelum dia mengaku menjadi utusan maupun sesudah dia diangkat menjadi utusan…

G : yah betul-betul.. Dan satu lagi, saat dia sudah diangkat sebagai utusan, maka dia pasti akan mengumumkannya pada manusia.

M : Begitu ya…

G : Iyah…

M : Betul pak, kalau dia tidak mengumumkannya, buat apa ada utusan? Yang nota bene itu adalah sebagai bukti dari tujuan penciptaan manusia itu sendiri…

M : Jadi pasti mengaku ya…

M : Ya iyalah, masak ya iya donk….

M : Ha ha ha ha ha ….

M : Terus bagaimana dengan kita ? Bukankah saat inipun kita butuh akan utusan? Bukankah utusan adalah sebagai hujjah tentang tujuan diciptakannya manusia, sampai kapanpun?

(Kriiiiiiiiiiiiiiiinggggggggggggg)

G : Bagaimana? Kita bahas lain waktu ya?

M : Baik pak?

G : Setidak nya kita punya kesimpulan, bahwa wajibul wujud dapat dikenali melalui utusannya. Nah utusan yang benar sebagiannya sudah kita bahas ciri-cirinya. Jadi kalau kalian ada waktu, maka kalian bisa mempelajari lebih jauh, termasuk apabila ada orang yang mengaku sebagai utusan….

One Response to “Wajibul Wujud Itu Siapa ?”

  1. kita sudah dibingkai dg ” manusia tempat salah dan lupa “, ini mengharuskan wajibul wujud itu bukan manusia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: